Korix Share

Saturday, May 14, 2005

RAUTAN MEJA KAYU

RAUTAN MEJA KAYU

Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain
itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan
orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya
buram, dan cara berjalannya pun ringkih.

Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang
pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata
yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu
kerap
jatuh Ke bawah.

Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.
Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan
semua
ini. "Kita harus lakukan sesuatu," ujar sang suami. "Aku sudah bosan
membereskan semuanya untuk pak tua ini."

Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut
ruangan. Di sana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat
semuanya
menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga
memberikan
mangkuk kayu untuk si kakek.

Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak
sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat
keriput si kakek. Meski tak ada gugatan darinya. Tiap kali nasi yang dia
suap, selalu ditetesi air mata yang jatuh dari sisi pipinya. Namun, kata
yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan
makanan lagi.

Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam. Suatu malam,
sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan
kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. "Kamu sedang membuat apa?".

Anaknya menjawab, "Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu, untuk
makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat
kakek biasa makan." Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka
tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua
pipi
mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti,
ada sesuatu yang harus diperbaiki.

Mereka makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat
ada
piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini,
mereka bisa makan bersama lagi di meja utama. Dan anak itu, tak lagi meraut
untuk membuat meja kayu.

Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu
mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan
selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan.

Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain
dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa
kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap "bangunan jiwa"
yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa
depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk merekalah kita akan selalu
belajar,
bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa
depan.

Jika anak hidup dalam kritik, ia belajar mengutuk.

Jika anak hidup dalam kekerasan, ia belajar berkelahi.

Jika anak hidup dalam pembodohan, ia belajar jadi pemalu.

Jika anak hidup dalam rasa dipermalukan, ia belajar terus merasa bersalah.

Jika anak hidup dalam toleransi, ia belajar menjadi sabar.

Jika anak hidup dalam dorongan, ia belajar menjadi percaya diri.

Jika anak hidup dalam penghargaan, ia belajar mengapresiasi.

Jika anak hidup dalam rasa adil, ia belajar keadilan.

Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar yakin.

Jika anak hidup dalam persetujuan, ia belajar menghargai diri sendiri.

Jika anak hidup dalam rasa diterima dan persahabatan, ia belajar mencari
cinta di seluruh dunia.

Betapa terlihat di sini peran orang tua sangat penting karena mereka
diistilahkan oleh Khalil Gibran sebagai busur kokoh yang dapat melesatkan
anak-anak dalam menapaki jalan masa depannya. Tentu hari ini harus lebih
baik dari hari kemarin, dan esok harus lebih baik dari hari ini dan tentu
kita selalu berharap generasi yang akan datang harus lebih baik dari
kita....

source : milis airputih ,

I am thankful

I am thankful
I am thankful....

1. For the husband / wife who snores all night, because he / she is at
home asleep with me and not with someone else.

2. For the taxes that I pay because it means that I am employed.

3. For the mess to clean up after a party because it means that I have
been surrounded by friends.

4. For the clothes that fit a little too snug because it means I have
enough to eat.

5. For my shadow that watches me work because it means I am out in the
sunshine.

6. For the floor that needs mopping, and windows that need cleaning
because it means I have a home.

7. For all the complaining I hear about the government because it means
that we have freedom to speech.

8. For the parking spot I find at the far end of the parking lot because
it means I am capable of walking and that I have been blessed with
transportation.

9. For the noise I have bear from my neighbors because it means that I can
hear.

10. For the pile of laundry and ironing because it means I have clothes to
wear.

11. For weariness and aching muscles at the end of the day because it
means I have been capable of working hard.

12. For the alarm that goes off in the early morning hours because it
means that I am still alive.

AND FINALLY.... for received personal and meaningful forwarded e-mails
because it means I have friends who are thinking of me.

Garam...Telaga

Garam...Telaga
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa Membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya.

Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. "Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..", ujar Pak tua itu.
"Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil meludah kesamping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu.

"Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah". Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, Bagaimana rasanya?". "Segar.", sahut tamunya.
"Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi.
"Tidak", jawab si anak muda. Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk
punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.
"Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama".
"Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung ! pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu". Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat.
"Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksanatelaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan".

Kenapa Tidak Punya Mobil

Kenapa Tidak Punya Mobil

Tampang bingung. Itulah gambaran yang bisa dilukiskan di wajah seorang bocah 6 tahun, saat melihat lalu-lalangnya kendaraan di jalan. Bocah itu seakan tidak memperdulikan hilir mudik orang- orang yang melaluinya bahkan ada beberapa orang yang hampir menendangnya. Dia pun seakan tidak senang saat beberapa orang yang lewat memasukan uang receh ke dalam kaleng yang sengaja di simpan di depannya.

"Sudah dapat berapa Ujang?" sapa seorang wanita umur 40 tahunan yang mengagetkan si Ujang. Si Ujang menengok wanita yang nampak lebih tua dari umur sebenarnya. Wanita itu tiada lain adalah ibunya yang sama-sama membuka praktek mengemis sekitar 100-200 meter dari tempat si Ujang mengemis.

"Nggak tahu Mak, hitung aja sendiri," jawab si Ujang sambil melihat kaleng yang ada di depannya. Tanpa menunggu wanita yang dipanggil Emak itu mengambil kaleng yang ada di depan si Ujang. Kemudian isi kaleng tersebut ditumpahkan ke atas kertas koran yang menjadi alas mereka duduk.

"Lumayan Ujang, bisa membeli nasi malam ini. Sisanya buat membeli kupat tahu besok pagi." Kata si Emak sambil tersenyum lebar, karena rezeki malam itu lebih banyak dari hari-hari biasanya.

"Mak..." kata si Ujang tanpa menghiraukan ucapan ibunya, "koq orang lain punya mobil? Kenapa Emak nggak punya?" Tanya si Ujang sambil menatap wajah ibunya.

"Ah, si Ujang mah, aya-aya wae, boro-boro punya mobil, saung aja kita mah nggak punya." kata si Emak sambil tersenyum. Si Emak kemudian membungkus uang yang telah dipisahkannya untuk besok dengan sapu tangan yang sudah lusuh dan dekil.

"Iya, tapi kenapa Mak?" Rupanya jawaban si Emak tidak memuaskan si Ujang.

"Ujang .... Ujang...." kata si Emak sambil tersenyum. "Kita tidak punya uang banyak untuk membeli mobil." kata si Emak mencoba menjelaskan. Tetapi nampaknya si Ujang belum puas juga,

"Kenapa kita tidak punya uang banyak Mak?" tanyanya sambil melirik si Emak.

"Kitakan cuma pengemis, kalau orang lain mah kerja kantoran jadi uangnya banyak." kata si Emak yang nampak akan beranjak. Seperti biasa sehabis matahari tenggelam si Emak membeli nasi dengan porsi agak banyak dengan 3 potong tempe atau tahu. Satu potong untuk si Emak sedangkan 2 potong untuk si Ujang anak semata wayangnya.

Sekembali membeli nasi, si Ujang masih menyimpan pertanyaan. Raut wajah si Ujang masih nampak bingung.

"Ada apa lagi Ujang?" kata si Emak sambil menyeka keringat di keningnya.

"Kenapa Emak nggak kerja kantoran saja?" tanya si Ujang dengan polosnya.

"Siapa yang mau ngasih kerjaan ke Emak, Emak mah orang bodoh, tidak sekolah." Jawab si Emak sambil membuka bungkusan yang dibawanya.

"Udah ..., sekarang makan dulu mumpung masih hangat!" Kata si Emak sambil mendekatkan nasi ke depan si Ujang. Si Ujang yang memang sudah lapar langsung menyantap makanan yang ada di depannya.

"Kenapa Emak nggak sekolah?" tanya si Ujang sambil mengunyah nasi plus tempe.

"Orang tua Emak nggak punya uang, jadi Emak nggak bisa sekolah."

"Ujang bakal sekolah nggak?" kata si Ujang sambil menatap mata si Emak penuh harap.

Emak agak bingung menjawab pertanyaan si Ujang. Lamunan Emak menerawang mengingat kembali mendiang suaminya, yang telah mendahuluinya. Mata si Emak mulai berkaca-kaca. Karena gelapnya malam, si Ujang tidak melihat butiran bening yang mulai menuruni pipi wanita yang dipanggil Emak tersebut. Karena tak kunjung dijawab, si Ujang bertanya lagi

"Kalau Ujang nggak sekolah, nanti kayak Emak lagi dong. Iya kan Mak?"

Pertanyaan Ujang makin menyesakan dada si Emak. Siapa yang ingin punya anak menjadi pengemis, tetapi si Emak bingung harus berbuat apa. Si Emak cuma melanjutkan menghabiskan nasi sambil menahan tangisnya. Akhirnya si Ujang pun diam sambil mengunyah nasi yang tinggal sedikit lagi. Deru mesin mobil menemani dua insan di pinggir jalan yang sedang menikmati rezeki Allah SWT yang mereka dapatkan. Diterangi lampu jalan mereka pun mulai berbenah untuk merebahkan diri. Di kepala si Ujang masih penuh tanda tanya, mau jadi apa dia kelak. Apakah akan sama seperti Emaknya saat ini?

ANAK SEPASANG BINTANG

ANAK SEPASANG BINTANG


Bunda ..., jadah itu artinya apa?"

Bunda tersentak waktu itu. Tak menyangka pertanyaan itu akan keluar
dari sela bibir mungilku, gadis kecilnya yang baru berumur lima tahun.
"Kenapa Sayang?" Bunda bertanya sambil mendekapku di dadanya. "Orang-orang
menyebutku seperti itu," jawabku dengan sangat polos. Aku memeluk Bunda
semakin erat dan merasakan perlindungannya.



Di waktu lainnya aku ajukan pertanyaan lain padanya.

"Bunda ..., apa saya punya Ayah? Orang-orang itu bilang saya tak punya
Ayah," tanyaku. Bunda baru saja selesai mendongeng padaku waktu itu.
Bunda tertegun begitu lama. "Ada!" tegas Bunda meyakinkanku. "Di mana?
Kenapa aku tak bisa menemuinya?" Bunda membimbingku bangkit dari tempat
tidur kayu berkepinding. Berjalan ke halaman tanpa penerangan.

"Kau lihat langit di atas sana?" Bunda bertanya tanpa melepas
genggamannya. Aku mengangguk mengiyakan. "Ayahmu ada di sana!" jawab Bunda
meyakinkan. Aku tidak melihat apa-apa. Selain langit hitam dan taburan
berjuta bintang tidak ada gambar wajah manusia terlihat di sana.

Tapi aku tidak ingin bertanya lagi. Barangkali ayahku adalah satu di
antara kerlip bintang-bintang itu. Besok jika anak-anak itu menggodaku
lagi dan mengatakan aku tidak punya ayah aku sudah punya jawabannya.

* * *

Sejak kecil aku cuma punya Bunda. Perempuan yang miskin tanpa harta
tapi penuh cinta. Yang selalu menyediakan dadanya untuk menyerap
luka-luka. Dengan upah seadanya sebagai tukang cuci pakaian pada beberapa
keluarga, Bunda selalu menabung. Katanya aku harus sekolah setinggi mungkin
dan jadi orang pandai. Agar tidak bodoh dan melarat seperti dirinya.

Bunda lewati seluruh kehidupan berat sendiri. Mengasuh anak yang terus
tumbuh tanpa pendamping di sisi. Tidak mudah memang, tapi tidak
sekalipun aku melihatnya berduka. Kecuali sekali pada suatu malam aku
terbangun dan melihatnya mengisak di atas sehelai sajadah.



Setiap kali aku menanyakan hal itu pada Bunda, cuma air matalah yang
kemudian menjadi jawabannya. Seperti menguak luka yang tak pernah kering
sama sekali. Lalu aku jadi tak pernah tega memaksa Bunda untuk
menjawabnya. Sebab Bunda terlalu mulia untuk terluka. Aku tidak ingin
mengecewakan Bunda. Perjuangannya tidak boleh sia-sia. Keinginannya melihatku
sekolah setinggi mungkin memacu semangatku untuk belajar dengan giat. Aku
selalu berhasil mencapai gelar juara sejak duduk dibangku SD hingga
SMU. Lalu kemudian aku terpaksa berpisah dengan Bunda. Aku diterima masuk
tanpa test di salah satu perguruan tinggi terkemuka di kota Pontianak.
Sekarang aku bahkan telah diterima bekerja di salah satu Bank Syariah
terkemuka yang baru berdiri. Aku ingin menjemput Bunda untuk mengajaknya
pindah ke kota ini. Tapi Bunda menolak.

* * *

Kukira dengan meninggalkan tempat kelahiran aku akan bisa hidup dengan
tenang. Semua mimpi buruk masa kecil tentang siapa ayahku tidak akan
memburuku sampai ke kota ini. Tapi tidak. Sepertinya ia menjelma jadi
kutukan yang mengikuti kemana pergi.

Aku telah dewasa kini. Telah siap untuk menikah dan berkeluarga. Sudah
tiga orang lelaki shaleh yang datang mengajukan lamaran padaku. Tapi
sudah tiga kali pula aku terpaksa menolaknya. Aku takut menceritakan
keluargaku. Aku tak mungkin mengatakan bahwa aku anak sebuah bintang.

"Rabbi ..., aku hanya ingin tahu siapa lelaki yang menjadi ayahku.
Hanya itu. Apa aku durhaka pada Bunda?" "Kau beruntung masih mempunyai
Bunda. Aku dibesarkan di panti asuhan, tak tahu siapa keluargaku." Asti ,
teman satu kamarku mencoba menghiburku. Aku insyaf kini. Aku masih
sangat beruntung mempunyai Bunda. Dalam sujudku malam itu aku menangis.
Mohon kesempatan pada Allah untuk membahagiakan Bunda. Perempuan yang
dicipta dari seribu kuntum bunga.

* * *

Berita itu sampai lewat seorang tamu. Salah seorang tetangga kami di
kampung dulu. Sengaja datang untuk mengunjungiku. Padaku ia cerita Bunda
sedang sakit. "Sebenarnya ia sakit sejak lama. Tapi tak mau cerita.
Bunda bilang tak mau kalau pekerjaanmu terganggu. Tapi aku pikir kau
memang perlu tahu!" Di rumah aku lihat Bunda terbaring di tempat tidurnya.
Tempat tidur yang sama seperti masa kecilku dulu. Tempat Bunda biasa
mendekap, mendongeng dan berdoa sebelum lelap menyergapku.



"Kenapa Bunda tidak memberitahuku?" tanyaku setelah mencium tangannya.
"Bunda tak mau pikiranmu terganggu," jawabnya sambil tetap mengukir
senyum di wajahnya. Tapi aku melihatnya semakin lemah saja. "Bunda ingin
mengatakan sesuatu tentang ayahmu, ia ...," "Tidak perlu, Bunda,"
potongku cepat. "Jangan katakan apa-apa. Tidak ada yang perlu Bunda jelaskan
tentang masa lalu. Bunda tetaplah Bunda. Perempuan yang dicipta dari
seribu kuntum bunga!" Aku memang sudah tidak lagi perduli. Bunda manusia
biasa. Mungkin pernah khilaf di masa lalunya. Tapi bagiku kini Bunda
adalah anugerah Allah terbesar dalam hidup ini.

* * *

Dua hari kemudian Bunda berpulang ke Rahmatullah. Malam itu kembali aku
menatap langit. Seperti waktu kecil dulu saat aku bertanya pada Bunda
di mana ayahku. Bunda akan menunjuk ke arah langit. Tempat kegelapan
malam dihiasi sinar berjuta bintang.

Bunda kini telah pergi. Menyusul ayahku di tempat yang abadi. Dan aku
tahu kini. Jika seorang lelaki shaleh datang untuk melamar dan bertanya
tentang keluargaku, aku akan mengatakan bahwa aku adalah anak sepasang
bintang!

W A L T D I S N E Y

W A L T D I S N E Y


Walter Elias Disney dilahirkan di Chicago pada tanggal 5 Desember 1901. Ibunya Flora Call, adalah seorang wanita Jerman.Sedangkan ayahnya Elias Disney, adalah seorang keturunan Irlandia. Kehidupan keluarga Disney berpindah dari satu kota ke kota lain, karena Elias Disney, yang sebenarnya terpesona oleh dunia bisnis, tidak mempunyai kesesuaian diri dengan dunia itu dan seringkali mengalami kegagalan finansial.

Pada tahun 1906, keluarga Disney pindah ke daerah Marceline, Missouri, di tanah pertanian yang baru dibelinya. Walt Disney kecil menyukai kehidupan di daerah barunya tersebut. Selain itu, kehidupan di desa tersebut juga menghidupkan rasa sayangnya kepada binatang-2 yang hidup di sekitarnya, seperti bebek, tikus, dan anjing. Kelak, ternyata hewan-2 itulah yang membuat namanya menjulang. Dari sini, Walt Disney menarik pelajaran berharga yang dia terapkan sepanjang hidupnya, yaitu bahwa " KEBAHAGIAAN AKAN TIMBUL DALAM DIRI KITA APABILA KITA LAKUKAN SESUATU YANG BENAR-BENAR KITA SUKAI."

Kehidupan Walt Disney yang bahagia itu teryata hanya bisa dinikmati sesaat saja. Kegagalan panen yang berturut-turut membuat Elias Disney, ayahnya harus menjual ladang pertaniannya dan membeli sebuah perusahaan koran setempat yang kecil. Untuk menghemat biaya pegawai, Elias Disney mempekerjakan Walt Disney dan kakaknya Ray tanpa biaya. Setiap pagi pukul 3.30 dinihari Walt dan Ray sudah harus bangun untuk menunggu kedatangan truk pengangkut. Sesudah itu mereka harus menjalankan tugas harian mengantarkan koran kepada para pelanggan di kota. Kadang-kadang orang menjumpai Walt berjalan dengan kelelahan dan gemetar kedinginan dengan bawaan hampir seberat dua kali berat tubuhnya. Adakalanya cuaca begitu dingin,sehingga Walt harus berjongkok di sudut jalan sekedar untuk menghangatkan diri. Seringkali Walt berpikir, apakah untuk hidup di dunia ini orang harus bekerja mati-matian sebagai budak dengan upah yang hanya bisa sekedar untuk survive ? Tidak adakah jalan lain untuk hidup ? Bila Walt mengantarkan koran untuk para pelanggannya yang kebanyakan adalah orang kaya di kota, maka Walt juga mulai berpikir mengapa mereka bisa hidup mewah, sementara dirinya hidup serba kekurangan.

Hal ini akhirnya melahirkan pelajaran kedua di dalam hidupnya,yaitu bahwa " KEHIDUPAN ITU ADALAH SUATU PILIHAN. APAKAH KITA MAU HIDUP KAYA ATAU MISKIN, TERGANTUNG ATAS KEPUTUSAN DAN TINDAKAN KITA SEPENUHNYA SAAT INI ".

Atas dasar pemikiran itulah maka setelah beranjak dewasa Walt bersikeras memutuskan untuk masuk ke dinas tentara,karena menurutnya pekerjaan tentara bisa lebih memberi kekayaan dibanding sebagai pengantar koran yang bekerja tidak dibayar. Di sela-2dinas ketentaraannya, Walt menggunakan waktu luangnya untuk menggambar.

Rupanya, bakat Walt dalam menggambar memang luar biasa, sehingga dalam waktu yang singkat banyak teman-2nya diketentaraan yang minta dibuatkan gambar dirinya.

Setelah perang dunia I usai, Walt keluar dari dinas tentara. Saat itu, sangatlah sulit mencari pekerjaan. Ini merupakan masa-masa paling suram dalam kehidupan Walt Disney. Untuk kembali ke orang tuanya dia malu, karena waktu itu dia sering menyombongkan pada orang tuanya bahwa pekerjaan tentara itu adalah `pekerjaan orang kaya'.

Walt tidak mempunyai uang barang sedikitpun, dan terpaksa menumpang di belakang sebuah bengkel kecil, dengan sebuah bangku usang, satu-satunya perabotan yang dimilikinya, untuk makan dan tidur. Lebih parah lagi, seminggu sekali dia harus pergi mengendap-endap ke stasiun kota di malam hari hanya sekedar untuk`mencuri' mandi.

Walt menyadari, bahwa hal ini tidak mungkin dibiarkan terus menerus. Dia kembali ingat impiannya di masa lalu,bahwa dia ingin menjadi kaya, bukan gelandangan seperti sekarang. Tapi, apa yang bisa dilakukan dengan keadaannya yang sekarang, tanpa modal, tanpa kenalan, tanpa pekerjaan. Dalam keadaan paling parah dalam hidupnya, Walt akhirnya bisa merumuskan prinsip hidupnya yang ketiga, yaitu
" TIDAK PEDULI SEBERAPA PARAH KEADAAN KITA SAAT INI,NAMUN KEADAAN PASTI AKAN BERUBAH LEBIH BAIK APABILA KITA MASIH MEMILIKI SATU HAL : HARAPAN "

Harapan itu pula yang terus memacu pikiran Walt. Akhirnya Walt menyadari, bahwa satu-satunya yang masih dimilikinya adalah bakat menggambarnya. Tapi, bagaimana caranya agar bakat tersebut bisa menghasilkan uang untuk dirinya ? Setelah sekian lama mencari-cari, Walt memutuskan bahwa Hollywood adalah tempat yang cocok dengan dirinya, dengan bakat yang dimilikinya. Untuk kesana, terpaksa Walt menahan malu dan meminjam uang dari kakaknya Ray.

Setibanya disana, ternyata Walt hanyalah satu dari sekian ribu orang yang berharap bisa menjadi bintang di Hollywood. Mulailah Walt masuk satu persatu ke studio yang ada disana, dan mencoba menawarkan diri untuk bekerja apa saja, asal ada hubungannya dengan dunia perfilman. Bukan hal yang mudah ternyata, karena tidak ada satupun studio yang mau menerimanya, bahkan untuk pekerjaan yang paling rendah sekalipun.

Walt menyadari, bahwa para studio itu menolaknya karena dirinya tidak menunjukkan satu keahlian khusus, yang membuat mereka tertarik kepadanya. Belajar dari situ, Walt membeli beberapa kertas kosong dan mulai menggambar. Kemudian Walt kembali lagi ke studio-2 itu lagi, kini dengan menonjolkan `bakat' yang dimilikinya. Ternyata ada satu studio yang tertarik dengan bakat Walt yang luar biasa.

Mereka bahkan langsung memesan satu cerita "Alice in The Wonderland" dalam bentuk film kartun bergerak, dengan harga awal US$ 1.500. Jumlah itu justru membuat Walt kaget, karena pada awalnya Walt hanya
berharap mendapatkan upah US$ 50 sebulan, hanya sekedar untuk bertahan hidup. Rangkaian film "Alice in The Wonderland" sukses luar biasa di bioskop Amerika, dan bertahan sampai tiga tahun berturut-turut. Dengan hasil dari film ini, Walt mulai bisa memperbaiki hidupnya, membeli rumah, membuat studio sendiri dan menikah dengan Lilian Bounds.

Suatu hari, Walt teringat masa kecilnya yang bahagia di pedesaan. Hal ini menginspirasi dirinya untuk menggambar tiga sahabat binatangnya waktu itu, yaitu bebek, tikus, dan anjing. Dari sinilah kemudian lahir
Donald Duck, Mickey Mouse dan Pluto. Ketiga binatang inilah yang membawa Walt Disney menuju ke kejayaannya sebagai seorang bintang di Hollywood. Selain itu, Walt juga rajin menciptakan film-film animasi lain yang terus mencetak uang bagi dirinya, seperti Snow White, Cinderella, Peter Pan dan Bambi. Dari sinilah Walt kemudian mendedikasikan diri seutuhnya untuk kebahagiaan anak-2 sedunia.

Pada tahun 1950, Walt mempunyai impian untuk membangun taman impian bagi anak-anak. Impian Walt ini dianggap gila oleh rekan-2nya sesama pengusaha, namun Walt tetap dengan pendiriannya. Taman bermain ini akhirnya bisa diwujudkan pada tahun 1955 di Anaheim, California.

Pada waktu pembukaan, Walt mengatakan dalam pidatonya
" KESUKSESAN DIMULAI KETIKA KITA MULAI MENCIPTAKAN IMPIAN JAUH
KEDEPAN. DAN SAAT KITA BERKOMITMEN UNTUK MENCAPAI IMPIAN ITU, MAKA SELANJUTNYA IMPIAN ITU YANG AKAN MENJADI MAGNET DAN MENARIK KITA
KESANA..".

Walt Disney meninggal pada tahun 1966. Namun visi dan impiannya untuk kebahagiaan anak-anak akan terus dikenang oleh dunia sepanjang masa.

Tulang Rusuk

Tulang Rusuk

Fiona: Yang paling kamu cintai di dunia ini siapa?
Albert: Kamu dong!

Fiona: Menurut kamu, aku ini siapa?
Albert: (berpikir sejenak lalu menatap Fiona dengan pasti).

Kamu tulang rusukku! Karena Tuhan melihat bahwa Adam kesepian. Saat Adam tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa. Semua Pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hati ...

"Setelah menikah, pasangan itu mengalami masa yang indah dan manis untuk sesaat.Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan kepenatan hidup yang ada. Hidup mereka menjadi membosankan.

Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain. Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas.

Pada suatu hari pada akhir sebuah pertengkaran Fiona lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak "Kamu nggak cinta lagi sama aku!". Albert sangat membenci ketidak dewasaan Fiona dan secara spontan balik berteriak "Aku menyesal kita menikah! Kamu ternyata bukan tulang rusukku !!!"

Tiba-tiba Fiona menjadi terdiam dan berdiri terpaku untuk beberapa saat. Albert menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan, tetapi seperti air yang telah tertumpah tidak mungkin untuk diambil kembali.

Dengan berlinang air mata, Fiona kembali ke rumah dan mengambil barang-barangnya, bertekad untuk berpisah. "Kalau aku bukan tulang rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan sejati masing-masing.

Lima tahun berlalu. Albert tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari
tahu akan kehidupan Fiona. Fiona pernah ke luar negeri tetapi sudah kembali. Dia pernah menikah dengan seorang asing dan bercerai.

Albert agak kecewa bahwa Fiona tidak menunggunya kembali. Dan di tengah malam yang sunyi dia meminum kopinya dan merasakan sakit di hatinya. Tetapi dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan Fiona.

Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di airport, di tempat di mana banyak terjadi pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah dinding pembatas.

Albert: Apa kabar?
Fiona: Baik ... apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang?
Albert: Belum.
Fiona: Aku terbang ke New York dengan penerbangan berikut.Aku akan
kembali 2 minggu lagi. Telpon aku kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor telepon kita, tidak ada yang berubah. Fiona tersenyum manis, lalu berlalu. "Good bye ...."

Satu minggu kemudian ternyata Fiona adalah satu korban Menara WTC.
Malam itu, sekali lagi, Albert mereguk kopinya dan kembali merasakan Sakit dihatinya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah karena Fiona, Tulang rusuknya sendiri yang telah dengan bodohnya dia patahkan. "Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya adalah fatal. Seringkali penyesalan itu datang belakangan akibatnya setelah kita menyadari kesalahan kita, semua sudah terlambat....

Karena itu jagalah dan sayangilah orang yang kau cintai dengan segenap
hatimu..., Sebelum kau mengucapkan sesuatu berpikirlah dulu,apakah
kata-kata yang kau ucapkan akan menyakiti orang yang kau cintai??

Kalo iya sebaiknya jangan kau ucapkan.
Karena akan semakin besar resiko kau kehilangan orang yang kau cintai.

Jadi berpikirlah dahulu, apakah kata-kata yang akan kau ucapkan sebanding dengan akibat yang akan kau terima?"

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui

Gundah Sang Ayah

Gundah Sang Ayah
Segenggam Gundah (ode untuk para Ayah)

Subuh tadi saya melewati sebuah rumah, 50 meter dari rumah saya dan
melihat seorang isteri mengantar suaminya sampai pagar depan
rumah. "Yah, beras sudah habis loh..." ujar isterinya. Suaminya hanya
tersenyum dan bersiap melangkah, namun langkahnya terhenti oleh
panggilan anaknya dari dalam rumah, "Ayah..., besok Agus harus bayar
uang praktek".

"Iya..." jawab sang Ayah. Getir terdengar di telinga saya, apalah
lagi bagi lelaki itu, saya bisa menduga langkahnya semakin berat.

Ngomong-ngomong, saya jadi ingat pesan anak saya semalam, "besok
beliin lengkeng ya" dan saya hanya menjawabnya dengan "Insya Allah"
sambil berharap anak saya tak kecewa jika malam nanti tangan ini tak
berjinjing buah kesukaannya itu.

Di kantor, seorang teman menerima SMS nyasar, "jangan lupa, pulang
beliin susu Nadia ya". Kontan saja SMS itu membuat teman saya bingung
dan sedikit berkelakar, "ini, anak siapa minta susunya ke siapa".
Saya pun sempat berpikir, mungkin jika SMS itu benar-benar sampai ke
nomor sang Ayah, tambah satu gundah lagi yang bersemayam. Kalau
tersedia cukup uang di kantong, tidaklah masalah. Bagaimana jika
sebaliknya?

Banyak para Ayah setiap pagi membawa serta gundah mereka, mengiringi
setiap langkah hingga ke kantor. Keluhan isteri semalam tentang uang
belanja yang sudah habis, bayaran sekolah anak yang tertunggak sejak
bulan lalu, susu si kecil yang tersisa di sendok terakhir, bayar
tagihan listrik, hutang di warung tetangga yang mulai sering
mengganggu tidur, dan segunung gundah lain yang kerap membuatnya
terlamun.

Tidak sedikit Ayah yang tangguh yang ingin membuat isterinya
tersenyum, meyakinkan anak-anaknya tenang dengan satu kalimat, "Iya,
nanti semua Ayah bereskan" meski dadanya bergemuruh kencang dan
otaknya berputar mencari jalan untuk janjinya membereskan semua
gundah yang ia genggam.

Maka sejarah pun berlangsung, banyak para Ayah yang berakhir di tali
gantungan tak kuat menahan beban ekonomi yang semakin menjerat cekat
lehernya. Baginya, tali gantungan tak bedanya dengan jeratan hutang
dan rengekan keluarga yang tak pernah bisa ia sanggupi. Sama-sama
menjerat, bedanya, tali gantungan menjerat lebih cepat dan tidak
perlahan-lahan.

Tidak sedikit para Ayah yang membiarkan tangannya berlumuran darah
sambil menggenggam sebilah pisau mengorbankan hak orang lain demi
menuntaskan gundahnya. Walau akhirnya ia pun harus berakhir di dalam
penjara. Yang pasti, tak henti tangis bayi di rumahnya, karena susu
yang dijanjikan sang Ayah tak pernah terbeli.

Tak jarang para Ayah yang terpaksa menggadaikan keimanannya, menipu
rekan sekantor, mendustai atasan dengan memanipulasi angka-angka,
atau berbuat curang di balik meja teman sekerja. Isteri dan anak-
anaknya tak pernah tahu dan tak pernah bertanya dari mana uang yang
didapat sang Ayah. Halalkah? Karena yang penting teredam sudah gundah
hari itu.

Teramat banyak para isteri dan anak-anak yang setia menunggu
kepulangan Ayahnya, hingga larut yang ditunggu tak juga kembali.
Sementara jauh disana, lelaki yang isteri dan anak-anaknya setia
menunggu itu telah babak belur tak berkutik, hancur meregang nyawa,
menahan sisa-sisa nafas terakhir setelah dihajar massa yang geram
oleh aksi pencopetan yang dilakukannya. Sekali lagi, ada yang rela
menanggung resiko ini demi segenggam gundah yang mesti ia tuntaskan.

Sungguh, diantara sekian banyak Ayah itu, saya teramat salut dengan
sebagian Ayah lain yang tetap sabar menggenggam gundahnya, membawanya
kembali ke rumah, menyertakannya dalam mimpi, mengadukannya dalam
setiap sujud panjangnya di pertengahan malam, hingga membawanya
kembali bersama pagi. Berharap ada rezeki yang Allah berikan hari
itu, agar tuntas satu persatu gundah yang masih ia genggam. Ayah yang
ini, masih percaya bahwa Allah takkan membiarkan hamba-Nya berada
dalam kekufuran akibat gundah-gundah yang tak pernah usai.

Para Ayah ini, yang akan menyelesaikan semua gundahnya tanpa harus
menciptakan gundah baru bagi keluarganya. Karena ia takkan
menuntaskan gundahnya dengan tali gantungan, atau dengan tangan
berlumur darah, atau berakhir di balik jeruji pengap, atau bahkan
membiarkan seseorang tak dikenal membawa kabar buruk tentang dirinya
yang hangus dibakar massa setelah tertangkap basah mencopet.

Dan saya, sebagai Ayah, akan tetap menggenggam gundah saya dengan
senyum. Saya yakin, Allah suka terhadap orang-orang yang tersenyum
dan ringan melangkah di balik semua keluh dan gundahnya. Semoga.

Bayu Gautama

Kupu - kupu

Kupu - kupu

Seseorang menemukan kepompong seekor kupu......
Suatu hari lubang kecil muncul.Dia duduk mengamati dalam beberapa jam
calon kupu-kupu itu ketika dia berjuang dengan memaksa dirinya
melewati lubang kecil itu. Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat
kemajuan.

Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih
jauh lagi. Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya. Dia
mengambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu.

Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh
gembung dan kecil, sayap-sayap mengkerut. Orang tersebut terus
mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap
itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yang
mungkin akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu....

Semuanya tak pernah terjadi......
Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak
disekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut.Dia tidak
pernah bisa terbang....

Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut
adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan
kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa
cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian
sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari
kepompong tersebut.

Kadang-kadang perjuangan adalah suatu yang kita perlukan dalam hidup
kita.Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan perjuangan, itu
mungkin justru akan melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang
semestinya yang dibutuhkan untuk menopang cita-cita dan harapan yang
kita mintakan.

Kita mungkin tidak akan pernah dapat "Terbang" Sesungguhnya Tuhan itu
Maha Pengasih dan maha Penyayang. Kita memohon Kekuatan...Dan Tuhan
memberi kita kesulitan-kesulitan untuk membuat kita tegar. Kita
memohon kebijakan...Dan Tuhan memberi kita berbagai persoalan hidup
untuk diselesaikan agar kita bertambah bijaksana.

Kita memohon kemakmuran...Dan Tuhan memberi kita Otak dan Tenaga untuk
dipergunakan sepenuhnya dalam mencapai kemakmuran.

Kita memohon Keteguhan Hati...Dan Tuhan memberi Bencana dan Bahaya
untuk diatasi.Kita memohon Cinta...Dan Tuhan memberi kita orang-orang
bermasalah untuk diselamatkan dan dicintai. Kita memohon Kemurahan
Kebaikan Hati...Dan Tuhan memberi kita kesempatan- kesempatan yang
silih
berganti.Begitulah cara Tuhan membimbing Kita...

Apakah jika kita tidak memperoleh yang diinginkan, berarti bahwa kita
tidak mendapatkan segala yang kita butuhkan? Kadang Tuhan tidak
memberikan yang kita minta, tapi dengan pasti Tuhan memberikan yang
terbaik untuk kita, kebanyakan kita tidak mengerti, mengenal, bahkan
tidak mau menerima rencana Tuhan, padahal justru itulah yang terbaik
untuk kita. ( by Taufiq Maulana-ETI )

Kisah Sang Tikus

Kisah Sang Tikus

Seekor tikus mengintip di balik celah di tembok untuk mengamati sang
petani dan isterinya membuka sebuah bungkusan. Ada makanan pikirnya? Dia
terkejut sekali, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus. Lari kembali
ke ladang pertanian itu, tikus itu menjerit memberi peringatan; "Awas, ada
perangkap tikus di dalam rumah, hati-hati, ada perangkap tikus di dalam
rumah!"

Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruk tanah,
mengangkat kepalanya dan berkata, "Ya maafkan aku, Pak Tikus, aku tahu ini
memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku secara pribadi tak ada
masalahnya. Jadi jangan buat aku peninglah."

Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing, katanya, "Ada perangkap
tikus di dalam rumah, sebuah perangkap tikus di rumah!" "Wah, aku menyesal
dengar khabar ini," si kambing menghibur dengan penuh simpati, "tetapi tak
ada sesuatupun yang bisa kulakukan kecuali berdoa.
Yakinlah, kamu sentiasa ada dalam doa doaku!"
Tikus kemudian berbelok menuju si lembu. " Oh? sebuah perangkap tikus,
jadi saya dalam bahaya besar ya?" kata lembu itu sambil ketawa.

Jadi tikus itu kembalilah ke rumah, kepala tertunduk dan merasa begitu
patah hati, kesal dan sedih, terpaksa menghadapi perangkap tikus itu
sendirian.

Malam itu juga terdengar suara bergema diseluruh rumah, seperti bunyi
perangkap tikus yang berjaya menangkap mangsanya. Isteri petani berlari
pergi melihat apa yang terperangkap. Di dalam kegelapan itu dia tak bisa
melihat bahwa yang terjebak itu adalah seekor ular berbisa. Ular itu sempat
mematuk tangan isteri petani itu. Petani itu bergegas membawanya ke rumah
sakit.

Dia kembali ke rumah dengan demam. Sudah menjadi kebiasaan setiap orang
akan memberikan orang yg sakit demam panas minum sup ayam segar, jadi petani
itu pun mengambil goloknya dan pergilah dia ke belakang mencari bahan-bahan
untuk supnya itu.

Penyakit isterinya berkelanjutan sehingga teman-teman dan tetangganya
datang menjenguk, dari jam ke jam selalu ada saja para tamu. Petani itupun
menyembelih kambingnya untuk memberi makan para tamu itu. Isteri petani itu
tak kunjung sembuh. Dia mati, jadi makin banyak lagi orang-orang yang datang
untuk pemakamannya sehingga petani itu terpaksalah menyembelih lembunya agar
dapat memberi makan para pelayat itu.

Moral kisah ini:
Apabila kita mendengar ada seseorang yang menghadapi masalah; janganlah
berpikir bahwa itu tidak ada kaitannya dengan diri kita, ingatlah bahwa
sebuah perangkap tikus dapat menyebabkan seluruh 'ladang pertanian' ikut
menanggung risikonya.

Ladang Pertanian Ibarat Lingkungan Kita Sehari2

Berhentilah Mementingkan Diri Sendiri
Berhentilah Memikirkan Keselamatan Sendiri
WHYYYYY ???????

Karena : Sikap mementingkan diri sendiri lebih banyak keburukan dari
baiknya.
Mari kita refleksikan sifat2 yang di wakili oleh si Ayam (Cuek) , si
Lembu (Menertawakan orang lain), si Kambing (Munafik) atau si Ular (Lengah
hingga terperangkap)

What a beautiful day if the whole family bind heart together

Ikatkan sehelai pita kuning bagiku

Ikatkan sehelai pita kuning bagiku

Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam- malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.

Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu dia naik bis menuju ke utara, ke kota
besar, ke kehidupan yang baru. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Sex, gambling, drug. Dia menikmati semuanya.

Bulan berlalu. Tahun berlalu. Bisnisnya gagal, dan ia mulai kekurangan uang. Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang. Akhirnya pada suatu saat naas, dia tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam penjara, dan pengadilan menghukum dia tiga tahun penjara.

Menjelang akhir masa penjaranya, dia mulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya. Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya. Dia berharap dia masih boleh kembali. Namun dia juga mengerti bahwa mungkin
sekarang sudah terlambat, oleh karena itu ia mengakhiri suratnya dengan menulis, "Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku. Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan? Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku."

Akhirnya hari pelepasannya tiba. Dia sangat gelisah. Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya? Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat sangat gugup. Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka meminta kepada sopir bus itu, "Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan-pelan...kita mesti lihat apa yang akan terjadi..."

Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya. Keringat dingin mengucur deras.

Akhirnya dia melihat pohon itu. Air mata menetas di matanya...

Dia tidak melihat sehelai pita kuning...

Tidak ada sehelai pita kuning....

Tidak ada sehelai......

Melainkan ada seratus helai pita-pita kuning....bergantungan di pohon beringin itu... Ooh... seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning...!!!!!!!!!!!!

Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada tahun 1973 di Amerika. Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, "Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree", dan ketika album ini di-rilis pada bulan Februari 1973, langsung menjadi hits pada bulan April 1973.



I'm coming home
I've done my time
And I have to know what is or isn't mine
If you received my letter
Telling you I'd soon be free
Then you'd know just what to do
If you still want me
If you still want me
Oh tie a yellow ribbon
'Round the old oak tree
It's been three long years
Do you still want me
If I don't see a yellow ribbon
'Round the old oak tree
I'll stay on the bus,
forget about us
Put the blame on me
If I don't see a yellow ribbon
'Round the old oak tree
Bus driver please look for me
'Cause I couldn't bare to see what I might see
I'm really still in prison
And my love she holds the key
A simple yellow ribbon's all I need to set me free
I wrote and told her please
Oh tie a yellow ribbon
'Round the old oak tree
It's been three long years
Do you still want me
If I don't see a yellow ribbon
'Round the old oak tree
I'll stay on the bus, forget about us
Put the blame on me
If I don't see a yellow ribbon
'Round the old oak tree
Now the whole damn bus is cheering
And I can't believe I see
A hundred yellow ribbons
'Round the old, the old oak tree
Tie a ribbon 'round the old oak tree
Tie a ribbon 'round the old oak tree
Tie a ribbon 'round the old oak tree
Tie a ribbon 'round the old oak tree
Tie a ribbon 'round the old oak tree
Tie a ribbon 'round the old oak tree
Tie a ribbon 'round the old oak tree
Tie a ribbon 'round the old oak tree

Teriak

Teriak

Suatu ketika di sebuah sekolah, diadakan pementasan drama. Pentas
drama yang meriah, dengan pemain yang semuanya siswa-siswi disana.
Setiap anak mendapat peran, dan memakai kostum sesuai dengan tokoh
yang diperankannya. Semuanya tampak serius, sebab Pak Guru akan
memberikan hadiah kepada anak yang tampil terbaik dalam pentas.

Sementara di depan panggung,
semua orangtua murid ikut hadir dan menyemarakkan acara itu.
Lakon drama berjalan dengan sempurna. Semua anak tampil dengan
maksimal. Ada yang berperan sebagai petani, lengkap dengan cangkul
dan topinya, ada juga yang menjadi nelayan, dengan jala yang
disampirkan di bahu. Di sudut sana, tampak pula seorang anak dengan
raut muka ketus, sebab dia kebagian peran pak tua yang pemarah,
sementara di sudut lain, terlihat anak dengan wajah sedih, layaknya
pemurung yang selalu menangis. Tepuk tangan dari para orangtua dan
guru kerap terdengar, di sisi kiri dan kanan panggung.

Tibalah kini akhir dari pementasan drama. Dan itu berarti, sudah
saatnya Pak Guru mengumumkan siapa yang berhak mendapat hadiah.
Setiap anak tampak berdebar dalam hati, berharap mereka terpilih
menjadi pemain drama yang terbaik. Dalam komat-kamit mereka berdoa, supaya Pak Guru akan menyebutkan nama mereka, dan mengundang ke atas panggung untuk menerima hadiah. Para orangtua pun ikut berdoa, membayangkan anak mereka menjadi yang terbaik.

Pak Guru telah menaiki panggung, dan tak lama kemudian ia menyebutkan sebuah nama. Ahha...ternyata, anak yang menjadi pak tua pemarah lah yang menjadi juara. Dengan wajah berbinar, sang anak bersorak gembira. "Aku menang...", begitu ucapnya. Ia pun bergegas menuju panggung, diiringi kedua orangtuanya yang tampak bangga. Tepuk tangan terdengar lagi. Sang orangtua menatap sekeliling, menatap ke seluruh hadirin. Mereka bangga.

Pak Guru menyambut mereka. Sebelum menyerahkan hadiah, ia sedikit
bertanya kepada sang "jagoan, "Nak, kamu memang hebat. Kamu pantas
mendapatkannya. Peranmu sebagai seorang yang pemarah terlihat bagus
sekali. Apa rahasianya ya, sehingga kamu bisa tampil sebaik ini? Kamu
pasti rajin mengikuti latihan, tak heran jika kamu terpilih menjadi
yang terbaik.." tanya Pak Guru, "Coba kamu ceritakan kepada kami
semua, apa yang bisa membuat kamu seperti ini..".

Sang anak menjawab, "Terima kasih atas hadiahnya Pak. Dan sebenarnya saya harus berterima kasih kepada Ayah saya dirumah. Karena, dari Ayah lah saya belajar berteriak dan menjadi pemarah. Kepada Ayah lah saya meniru perilaku ini. Ayah sering berteriak kepada saya, maka, bukan hal yang sulit untuk menjadi pemarah seperti Ayah."

Tampak sang Ayah yang mulai tercenung. Sang anak mulai melanjutkan,
"..Ayah membesarkan saya dengan cara seperti ini, jadi peran ini,
adalah peran yang mudah buat saya..."
Senyap. Usai bibir anak itu terkatup, keadaan tambah senyap.
Begitupun kedua orangtua sang anak di atas panggung, mereka tampak
tertunduk. Jika sebelumnnya mereka merasa bangga, kini keadaannya
berubah. Seakan, mereka berdiri sebagai terdakwa, di muka pengadilan.
Mereka belajar sesuatu hari itu. Ada yang perlu diluruskan dalam
perilaku mereka.

***

Teman, setiap anak, adalah duplikat dari orang di sekitarnya. Setiap
anak adalah peniru, dan mereka belajar untuk menjadi salah satu dari
kita. Mereka akan belajar untuk menjadikan kita sebagai contoh,
sebagai panutan dalam bertindak dan berperilaku. Mereka juga akan
hadir sebagai sosok-sosok cermin bagi kita, tempat kita bisa berkaca
pada semua hal yang kita lakukan. Mereka laksana air telaga yang
merefleksikan bayangan kita saat kita menatap dalam hamparan perilaku
yang mereka perbuat.

Namun sayang, cermin itu meniru pada semua hal. Baik, buruk, terpuji
ataupun tercela, di munculkan dengan sangat nyata bagi kita yang
berkaca. Cermin itu juga menjadi bayangan apapun yang ada di
depannya. Telaga itu adalah juga pancaran sejati terhadap setiap
benda di depannya. Kita tentu tak bisa, memecahkan cermin atau
mengoyak ketenangan telaga itu, saat melihat gambaran yang buruk.
Sebab, bukankah itu sama artinya dengan menuding diri kita sendiri?

Teman, saya ingin berpesan kepada kita semua, "berteriaklah kepada
anak-anak kita saat kita marah, maka, kita akan membesarkan seorang
pemarah. Bermuka ketuslah kepada mereka saat kita marah, maka kita
akan membesarkan seorang pembenci, dan biarkanlah mulut dan tangan
kita yang bekerja saat kita marah, maka kita akan belajar menciptakan
seorang yang penuh dengki..."

Peran apakah yang sedang kita ajarkan kepada anak-anak kita saat ini?
Contoh apakah yang sedang kita berikan kali ini? Dan panutan apakah
yang sedang kita tampilkan? Teman, percayalah, mereka akan selalu
belajar dari kita, dari orang yang terdekatnya, dari orang yang
mencintainya. Merekalah lingkaran terdekat kita, tempat mereka
belajar, menerima kasih sayang, dan juga tempat mereka meniru dalam
berperilaku.

Saya berharap, bisa menjadi orang yang sabar saat melihat seorang
anak menumpahkan air di gelas yang mereka pegang. Saya berharap
menjadi orang yang ikhlas, saat melihat mereka memecahkan piring
makan mereka sendiri. Sebab, bukankah mereka baru "belajar" memeganggelas dan piring itu selama 5 tahun, sedangkan kita telah mengenalnya sejak lebih 20 tahun? Tentu mereka akan butuh waktu untuk bisa seperti kita. Teman, terima kasih telah membaca. Hope you are well and please do take care.

Cinta setelah menunggu 30 tahun

Cinta setelah menunggu 30 tahun

Bagi yang tidak percaya dengan keabadian cinta, sebaiknya mendengar
cerita ini. Desember lalu, setelah menunggu selama 30 tahun, sepasang
kekasih dari Korea Utara dan Vietnam akhirnya bersatu dalam pernikahan. Tiga dasawarsa bukanlah waktu yang pendek, tapi mereka berhasil menjaga kesucian cinta mereka dari seberang lautan.

Kisah cinta ini bermula saat seorang mahasiswa kimia asal Vietnam pergi ke Korea Utara pada 1971 untuk belajar. Mahasiswa muda itu, Pham Ngoc Canh, jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang wanita yang sekilas melihatnya melewati pintu laboratorium di Hamhung, tak jauh dari Pyongyang.

Pham pun nekat menemui Ri Young-Hui. Mereka lalu bertukar hadiah, Pham memberi foto dan Ri memberikan alamat yang ditulis di sobekan kertas.

Mereka bertemu diam-diam dan berpisah diam-diam. Pham memberitahu ibu
Ri agar memaksa putrinya menikah dengan pria lain saja karena mereka berdua tidak mungkin dipertemukan. Rezim Korea Utara melarang warganya berhubungan dengan orang asing, meski dari negara komunis seperti Vietnam.

Ri menolak saran Pham dan ibunya untuk menikah dengan pria lain. Bahkan ketika Pham pulang ke Hanoi karena tugas belajarnya selesai, Ri berusaha bunuh diri. Pham pun akhirnya bertekad untuk memperjuangkan cinta mereka.

Dibantu oleh ibu Ri, kedua kekasih ini menjalin hubungan hanya lewat surat selama 20 tahun tanpa pernah bertemu sekalipun. Surat terakhir diterimanya pada 1992.

Mengetahui Ri tak mungkin memperjuangkan persatuan mereka kembali, Pham pun mengambil inisiatif untuk selalu mengusahakan pertemuan mereka kembali.

Sebagai seorang penerjemah tim olahraga nasional, Pham beberapa kali mengunjungi Korea Utara. Kesempatan ini selalu digunakannya untuk menghubungi Ri. Namun, usahanya selalu gagal. Orang-orang di Korea Utara selalu mengatakan, Ri telah menikah atau meninggal, tapi Pham lebih percaya kesejatian cinta Ri ketimbang omongan orang-orang. Ia menolak untuk percaya telah kehilangan kekasihnya.

Pham juga pernah berusaha melunakkan kakunya birokrasi dengan membawa
40 surat cinta dalam bahasa Korea yang dikumpulkannya selama 20 tahun
itu ke Kedutaan Besar Korea Utara di Hanoi. Ia berharap mereka mau membantu. Namun usaha ini, seperti perjuangan sebelumnya, menemui ketidakpastian.

Tahun-tahun terus berlalu dan rambut mereka sudah mulai beruban, namun cinta mereka tak juga pupus. Tahun lalu, Pham melakukan usaha terakhirnya saat ia mendengar delegasi politik Vietnam berkunjung ke Pyongyang.

Ia kemudian menulis surat kepada Presiden dan Menteri Luar Negeri Vietnam. Usahanya kali ini tak sia-sia. Beberapa bulan kemudian, ia mendapat jawaban yang ditunggunya selama 30 tahun: pemerintah Korea Utara mengizinkannya untuk menikahi Ri Young Hui.

September lalu, pasangan yang telah berusia 50 tahunan itu bertemu kembali. Mereka pun sepakat untuk tidak menunda-nunda lagi pernikahan yang sudah lama dinantikan itu. Desember lalu, di Hanoi, keduanya menikah dengan dihadiri 700 tamu yang datang dengan mata berkaca-kaca.

bbc/qaris

Sumber: Koran Tempo - Sabtu, 18 January 2003

Andai saja engkau percaya padaku

Andai saja engkau percaya padaku

Sulit benar membangun kepercayaan, walau untuk hal-hal yang sederhana
sekalipun. Ini kisahku dalam perjalanan tempo hari.
Soal lampu rem misalnya. Jika ia menyala, pasti ada ada hambatan di depan.
Maka sudah sepantasnya, si belakang mengikuti si depan karena depanlah
yang tengah menjadi imam, melihat dengan mata kepala sendiri apa yang
terjadi di depannya.

Tapi karena tidak dipercayai, maka otoritas ini sering dianggap sepi. Saat itu,
akulah yang mestinya paling berhak untuk mengerti bahwa di depan ada becak
yang sarat muatan hendak menyeberang. Biarlah ia lewat. Kalau ia harus berhenti
dan menggejot dari awal lagi, tentu merepotkan.

Tapi keputusanku ini ternyata membuat mobil di belakang itu tidak senang.
Baru saja aku menginjak rem, klaksonnya sudah menyalak galak bertubi-tubi.
Tapi keputusan telah ditetapkan, dan abang becak telah mengambil jalan. Si mobil
belakang ini juga telah membulatkan hati, dia memilih menyalipku daripada ikut berhenti.
Maka yang terjadi terjadilah.

Ia begitu terkejut, hampir mati ketika becak itu muncul begitu saja di moncong mobilnya.
Ia menginjak rem hingga berdecit. Tabrakan keras memang tidak terjadi tapi sekedar
ciuman bumper pun telah membuat sang becak terguling. Muatan sayuran yang
menggunung berhamburan memenuhi jalan. Kecelakaan itu tidak mengerikan, tetapi sayuran
yang bertebaran benar-benar telah menjadi provokasi tersendiri.

Jalanan macet seketika. Si penyalip mobilku pucat pasi. Ia seorang pria, tampak terpelajar;
tapi saat itu ia berubah menjadi orang yang kelihatan bodoh.
Posisi mobilnya secara mencolok memperlihatkan bahwa dialah biang keladi kemacetan ini.
Semua pihak kini menudingnya. Dan abang becak yang terkapar itu, entah belajar teori drama
dari mana, mulai membangun sensasi. Ia membiarkan saja becaknya terjungkal. Ia sendiri
dengan ketenangan seorang jagoan, memilih bangkit dan berjalan menghampiri si pria pengemudi
dan langsung meninjunya.

Cerita selanjutnya bukan urusanku lagi. Tapi tak sulit merekonstruksi akhir insiden ini.
Betapa tidak enak membayangkan perasaan pengemudi mobil tadi.
Seorang yang tampak terpelajar, bertampang bersih, tapi cuma jadi bahan olok-olok lingkungan
dan dipukuli seperti kriminal. Padahal, jika saja ia mau sedikit bersabar, dan terpenting,
mau mempercayaiku untuk ikut berhenti, musibah ini mungkin tidak akan terjadi.

Seperti itulah keadaan di negeriku, orang lain tak pernah dibiarkan menjadi imam, walau ia
memang tengah memegang otoritas yang sesungguhnya. Selalu saja ada intervensi.

Inilah mengapa kita selalu cenderung membunyikan klakson di saat kita dalam kemacetan.
Mengapa dalam hal antri, leher kita cenderung terjulur demikian panjang untuk selalu gatal
melihat keadaan di depan.
Kita selalu ingin tergesa-gesa, tidak punya kesabaran sedikitpun.
Padahal di depan itu sering tidak terjadi apa-apa. Kemacetan itu masih baik-baik saja.
Sekeras apapun klakson yang kita bunyikan, tidak akan mengubah situasi jika saatnya belum tiba.
Pada gilirannya, antrian pun pasti akan bergerak maju dengan caranya sendiri. Jika semuanya
masih terhenti, pasti karena masih ada persoalan.
Biarlah itu persoalan yang di depan. Kita di belakang, tinggal mempercayainya.
Berat memang, tapi inilah ongkos hidup bersama. Harus ada semacam tebusan sebagai ongkos
kepercayaan.
Ketidaksabaran membayar ongkos inilah yang membuat hidup bermasyarakat sering dilanda
kekacauan. Para imam, pemimpin, dan pihak yang di depan itu, memang bisa saja
menyelewengkan kepercayaan. Kita boleh kecewa tapi tak perlu mendendam. Karena untuk
hidup bersama, manusia memang perlu saling mempercayai.
Soal bahwa sesekali kita tertipu, tidak usah diherankan pula. Siapa yang sama sekali bisa
membebaskan diri dari nasib sial? Rasanya tak ada.

Maka andai saja saat itu engkau percaya padaku, engkau pasti tidak dipermalukan
sedemikian rupa.

Negeri Orang Tertawa

Negeri Orang Tertawa

Saya berasal dari sebuah negeri yang penuh
kehangatan hidup. Bakat utama bangsa saya adalah
bergembira dan tertawa. Kaya atau miskin, menang
atau kalah, mendapatkan atau kehilangan, kenyang
atau lapar, sehat atau sakit semuanya potensial
untuk membuat kami bergembira dan tertawa.

Bangsa saya sangat murah hati. Mengekspor ke
berbagai negara bukan hanya barang dan makanan,
tetapi manusia. Penduduk negeri saya bertebaran di
berbagai negara. Ada yang menjadi kaya, ada yang
mati tak ketahuan kuburnya. Ada yang sukses, ada
yang diperkosa. Ada yang pulang membawa modal
lumayan, ada yang dipukuli, diseterika,
dibenturkan kepalanya ke tembok. Dua kali saya
membawa pulang wanita muda gegar otak dan badannya
luka-luka, dari Cairo dan Riyadh ke Jakarta.

Aliansi Anti Deportasi di Jakarta melaporkan ia
telah melaporkan hampir 3 juta kasus penindasan
atas tenaga kerja Indonesia di luar negeri, dan
tak satupun yang diselesaikan. Para pekerja yang
sukses tidak ada yang bersikap egoistik: pulang ke
tanah air, di Terrminal-3 Cengkareng Airport,
mereka menyediakan diri untuk ditodong oleh banyak
yang memang menunggu di sana untuk mencari nafkah.
Itu membuat mereka menangis sejenak, tapi kemudian
tertawa-tawa lagi. Karena penderitaan adalah
memang sahabat yang paling akrab dengan mereka
sejak kanak-kanak..

Bangsa saya sangat berpengalaman dijajah. Sebagian
mereka menunggu penjajah datang ke kampungnya,
sebagian yang lain menyeberang ke luar negeri
untuk mencari penjajah

Bangsa Indonesia tidak memerlukan pemerintahan
yang baik untuk tetap bisa bergembira dan tertawa.
Kami tidak memerlukan perekonomian yang stabil,
politik yang bersih, kebudayaan yang berkualitas
untuk mampu bergembira dan tertawa. Kami bisa
menjadi gelandangan, mendirikan rumah liar sangat
sederhana di tepi sungai, dan kami hiasi dengan
pot-pot bunga serta burung perkutut.

Bangsa kami sangat berpengalaman dijajah, juga
saling menjajah di antara kami. Dijajah atau
menjajah, kami bergembira dan tertawa. Sayang
sekali belum ada ilmuwan yang tertaik meneliti
frekwensi tertawa bangsa kami di rumah, di
warung, di lapangan sepakbola, di ruang
pertunjukan, di layar televisi, di tengah
kerusuhan, di gedung parlemen, di rumah ibadah, di
manapun saja. Ada orang terjatuh dari motor, kami
menuding-nudingnya sambil tertawa. Orang bodoh
ditertawakan. Apalagi orang pandai.

Kehidupan bangsa kami sangat longgar, sangat
permisif dan penuh kompromi. Segala sesuatu bisa
dan gampang diatur. Hukum sangat fleksibel.
Idealisme tergantung keperluan. Ideologi bisa
diubah kapan saja, asal menguntungkan. Kebenaran
harus tunduk kepada kemauan kita. Bangsa saya
bukan masyarakat kuno yang sombong dengan jargon
membela yang benar. Kami sudah menemukan suatu
formula pragmatis untuk kenikmatan hidup, yakni
membela yang bayar.

Tuhan harus menyesuaikan aturan-aturan-Nya dengan
perkembangan dan kemajuan hidup kita. Orang-orang
yang memeluk Agama sudah sangat lelah berabad-abad
diancam oleh Tuhan yang maha menghukumm,
menyiksan, mencampakkan kita ke apir neraka. Tuhan
yang boleh masuk ke rumah kita sekarang adalah
Tuhan yang penuh kasih sayang, yang suka memaafkan
dan memaklumi kesalahan-kesalahan kita.
Sebagaimana kata-kata mutiara Manusia itu
tempat salah dan khilaf.


FROM THE BOOKS : NEGERI ORANG TERTAWA
DITULIS OLEH : EMHA AINUN NADJIB

Melihat Yang Orang Lain Tidak Dapat Lihat

Melihat Yang Orang Lain Tidak Dapat Lihat

Saat orang lain menganggap sebagai masalah yang berat.
Saya melihat sebagai peluang untuk dapat maju.

Saat orang lain menganggap sebagai hal yang tidak
berarti.
Saya melihat sebagai suatu masukkan yang berarti.

Saat orang lain melihat sebagai angka-angka yang
membosankan.
Saya melihat sebagai data yang menentukan keputusan.

Saat orang lain melihat sebagai pekerjaan orang lain.
Saya melihat sebagai menambah pengetahuan.

Saat orang lain tidak dapat menyelesaikan masalah.
Saya melihat tidak ada masalah yang tidak dapat
terselesaikan.

Saat orang lain hanya sebagai pengikut.
Saya melihat peluang untuk menciptakan pengikut.

Saat orang lain menutupi kesalahan.
Saya belajar dari kesalahan.

Janga sia-siakan tulang rusuk-mu...

Janga sia-siakan tulang rusuk-mu...
source : http://suaramerdeka.com/cybernews/layar/resonansi/resonansi43.html

Sebuah senja yang sempurna, sepotong donat, dan lagu cinta yang lembut. Adakah yang lebih indah dari itu, bagi sepasang manusia yang memadu kasih? Raka dan Dara duduk di punggung senja itu, berpotong percakapan lewat, beratus tawa timpas, lalu Dara pun memulai meminta kepastian. ya, tentang cinta

Dara : Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini

Raka : Kamu dong?

Dara : Menurut kamu, aku ini siapa?

Raka : (Berpikir sejenak, lalu menatap Dara dengan pasti) Kamu tulang rusukku! Ada tertulis, Tuhan melihat bahwa Adam kesepian. Saat Adam tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa. Semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hati."

Setelah menikah, Dara dan Raka mengalami masa yang indah dan manis untuk sesaat. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan kepenatan hidup yang kain mendera. Hidup mereka menjadi membosankan. Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain.

Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas. Pada suatu hari, pada akhir sebuah pertengkaran, Dara lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak, "Kamu nggak cinta lagi sama aku!"

Raka sangat membenci ketidakdewasaan Dara dan secara spontan balik berteriak, "Aku menyesal kita menikah! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!"

Tiba-tiba Dara menjadi terdiam , berdiri terpaku untuk beberapa saat. Matanya basah. Ia menatap Raka, seakan tak percaya pada apa yang telah dia dengar.

Raka menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan. Tetapi seperti air yang telah tertumpah, ucapan itu tidak mungkin untuk diambil kembali.

Dengan berlinang air mata, Dara kembali ke rumah dan mengambil barang-barangnya, bertekad untuk berpisah. "Kalau aku bukan tulang rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan sejati masing-masing."

Lima tahun berlalu.

Raka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu akan kehidupan Dara. Dara pernah ke luar negeri, menikah dengan orang asing, bercerai, dan kini kembali ke kota semula. Dan Raka yang tahu semua informasi tentang Dara, merasa kecewa, karena dia tak pernah diberi kesempatan untuk kembali, Dara tak menunggunya.

Dan di tengah malam yang sunyi, saat Raka meminum kopinya, ia merasakan ada yang sakit di dadanya. Tapi dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan Dara.

Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di airport, di tempat ketika banyak terjadi pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah dinding pembatas, mata mereka tak saling mau lepas.

Raka : Apa kabar?

Dara : Baik... ngg.., apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang?

Raka : Belum.

Dara : Aku terbang ke New York dengan penerbangan berikut.

Raka : Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor telepon kita, belum ada yang berubah. Tidak akan ada yang berubah.

Dara tersenyum manis, lalu berlalu.

"Good bye...."

Seminggu kemudian, Raka mendengar bahwa Dara mengalami kecelakaan, mati. Malam itu, sekali lagi, Raka mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit di dadanya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah karena Dara, tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya dia patahkan.

"Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal"

positive thinking

positive thinking

> Pygmalion adalah seorang pemuda yang berbakat seni memahat.
> Ia sungguh piawai dalam memahat patung.
> Karya ukiran tangannya sungguh bagus.
> Tetapi bukan kecakapannya itu menjadikan ia dikenal dan disenangi teman dan tetangganya
> Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif.
> Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik.
>
> Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel. Tetapi
> Pygmalion berkata, "Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini."
> Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga
> kawan-kawan Pygmalion berbisik, "Kikir betul orang itu." Tetapi
> Pygmalion berkata : "Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk
> urusan lain yang lebih perlu".
>
> Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion tidak mengumpat.
> Ia malah merasa iba, "Kasihan,anak-anak itu kurang mendapat
> pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya."
>
> Itulah pola pandang Pygmalion.
> Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik
> Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain sebaliknya.....
> Ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain.
>
> Pada suatu hari Pygmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu
> yang sangat halus. Patung itu berukuran manusia sungguhan. Ketika
> sudah rampung, patung itu tampak seperti manusia betul. Wajah patung
> itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik. Kawan-kawan
> Pygmalion berkata, "Ah,sebagus-bagusnya patung, itu cuma patung, bukan
> isterimu." Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu sebagai manusia
> betul. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya.
> Para dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion,
> Lalu mereka memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pygmalion,
> Yaitu mengubah patung itu menjadi manusia betul.
> Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya
> Yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani.
>
> Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak pola
> berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu
> keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi
> positif.
>
> Misalnya,
> Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang,
> maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.
>
> Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya
> dia betul-betul menjadi cerdas.
>
> Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil,
> besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan.
>
> Dampak pola berpikir positif itu disebut dampak Pygmalion. Pikiran
> kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau
> ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif. Kalau kita
> menganggap tetangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengan
> dia, maka akhirnya dia betul-betul menjadi judes.
>
> Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur, akhirnya
> ia betul-betul menjadi tidak jujur. Kalau kita sudah putus asa dan
> merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali
> kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.
>
> Pola pikir Pygmalion adalah
> berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang.
> Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita berpola pikir positif seperti itu.
> Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain.
>
> Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang lain.
> Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain. Kalau kita
> berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga
> hal-hal yang buruk. Jika ada seorang kawan memberi hadiah kepada
> kita, jelas itu adalah perbuatan baik. Tetapi jika kita berpikir
> buruk,kita akan menjadi curiga, "Barangkali ia sedang mencoba
> membujuk, " atau kita mengomel "Ah, hadiahnya cuma barang murah.">
> Yang rugi dari pola pikir seperti itu adalah diri kita sendiri. Kita
> menjadi mudah curiga. Kita menjadi tidak bahagia. Sebaliknya, kalau
> kita berpikir positif, kita akan menikmati hadiah itu dengan rasa
> gembira dan syukur, "Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia
> ingat untuk memberi kepada kita."
>
> Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai.
> Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu akan tampak
> kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram. Tetapi kalau kita memakai
> kaca mata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata
> yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa
> curiga dan dendam. Tetapi kaca mata yang damai akan menjadikan hidup
> kita damai.
>
> Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik.
> Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain.
> Berpikir baik tentang keadaan.
> Berpikir baik tentang Tuhan.
>
> Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan.
> Keluarga menjadi hangat.
> Kawan menjadi bisa dipercaya.
> Tetangga menjadi akrab.
> Pekerjaan menjadi menyenangkan.
> Dunia menjadi ramah.
> Hidup menjadi indah.
> Seperti Pygmalion........
>
> MAKE SURE YOU ARE PYGMALION
> and the world will be filled with positive people only
> What a wonderfull world......
>
> I see friend shaking hand say...
> They say How do you do
> They really saying I Love You....

Hanya waktu yg membuktikan besarnya ...

Hanya waktu yg membuktikan besarnya ...

Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak:
ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan, dan Kecantikan.
Mereka hidup berdampingan dengan baik.

Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut
tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu.
Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri.
Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan
tak mempunyai perahu.

Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan.
Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta.
Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu.

"Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!" teriak Cinta.
"Aduh! Maaf, Cinta!" kata Kekayaan, "perahuku telah penuh dengan
harta bendaku.
Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam.
Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini."
Lalu Kakayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi.

Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat
dengan perahunya.

"Kegembiraan! Tolong aku!", teriak Cinta. Namun Kegembiraan terlalu
gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan
Cinta.

Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin
panik.

Tak lama lewatlah Kecantikan.
"Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!", teriak Cinta.
"Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti
kamu mengotori perahuku yang indah ini." sahut Kecantikan.
Cinta sedih sekali mendengarnya.

Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah Kesedihan.
"Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu," kata Cinta.
"Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian
saja..." kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya.
Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan
menenggelamkannya.

Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara,
"Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!"
Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan
perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat
sebelum air menenggelamkannya.
Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi.

Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak
mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu.
Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau
itu, siapa sebenarnya orang tua itu.

"Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu." kata orang itu.
"Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-
teman yang mengenalku pun enggan menolongku" tanya Cinta heran.

"Sebab," kata orang itu, "hanya Waktu lah yang tahu
berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu ..."

Do'a dan pertolongan Tuhan

Do'a dan pertolongan Tuhan
source : http://suaramerdeka.com/cybernews/layar/resonansi/resonansi62.html

Louise Redden, seorang ibu kumuh dengan baju kumal, masuk ke dalam sebuah supermarket. Dengan sangat terbata-bata dan dengan bahasa yang sopan ia memohon agar diperbolehkan mengutang.Ia memberitahukan bahwa suaminya sedang sakit dan sudah seminggu tidak bekerja. Ia memiliki tujuh anak yang sangat membutuhkan makan.

John Longhouse, si pemilik supermarket, mengusir dia keluar. Sambil terus menggambarkan situasi keluarganya, si ibu terus menceritakan tentang keluarganya. "Tolonglah, Pak, Saya janji akan segera membayar setelah aku punya uang."

John Longhouse tetap tidak mengabulkan permohonan tersebut. "Anda tidak mempunyai kartu kredit, Anda tidak mempunyai garansi," alasannya.

Di dekat counter pembayaran, ada seorang pelanggan lain, yang dari awal mendengarkan percakapan tadi. Dia mendekati keduanya dan berkata: "Saya akan bayar semua yang diperlukan Ibu ini."

Karena malu, si pemilik toko akhirnya mengatakan, "Tidak perlu,Pak.Saya sendiri akan memberikannya dengan gratis."

"Baiklah, apakah ibu membawa daftar belanja?"

"Ya, Pak. Ini," katanya sambil menunjukkan sesobek kertas kumal.

"Letakkanlah daftar belanja Anda di dalam timbangan, dan saya akan memberikan gratis belanjaan Anda sesuai dengan berat timbangan tersebut."

Dengan sangat ragu-ragu dan setengah putus asa, Louise menundukkan kepala sebentar, menuliskan sesuatu pada kertas kumal tersebut, lalu dengan kepala tetap tertunduk, meletakkannya ke dalam timbangan. Mata Si pemilik toko terbelalak melihat jarum timbangan bergerak cepat kebawah. Ia menatap Pelanggan yang tadi menawarkan si ibu tadi sambil berucap kecil, "Aku tidak percaya pada yang aku lihat."

Si pelanggan baik hati itu hanya tersenyum. Lalu, si ibu kumal tadi mengambil barang-barang yang diperlukan, dan disaksikan oleh pelanggan baik hati tadi, si Pemilik toko menaruh belanjaan tersebut pada sisi timbangan yang lain. Jarum timbangan tidak kunjung berimbang, sehingga si ibu terus mengambil barang-barang keperluannya dan sipemilik toko terus menumpuknya pada timbangan, hingga tidak muat lagi.

Si Pemilik toko merasa sangat jengkel dan tidak dapat berbuat apa-apa. Karena tidak tahan, Si pemilik toko diam-diam mengambil sobekan kertas daftar belanja si Ibu kumal tadi. Dan ia-pun terbelalak. Di atas kertas kumal itu tertulis sebuah doa pendek: "Tuhan, Engkau tahu apa yang hamba perlukan. Hamba menyerahkan segalanya ke dalam tanganMu." Si Pemilik Toko terdiam. Si Ibu, Louise, berterimakasih kepadanya, dan meninggalkan toko dengan belanjaan gratisnya. Si pelanggan baik hati bahkan memberikan selembar uang 50 dollar kepadanya.

Si Pemilik Toko kemudian mencek dan menemukan bahwa timbangan yang dipakai tersebut ternyata rusak. Ternyata memang hanya Tuhan yang tahu bobot sebuah doa. Kekuatan sebuah doa

Kerja keras Monang sip pengusaha (inspirated stories)

Kerja keras Monang sip pengusaha (inspirated stories)

Namanya Hamonangan Sinaga, panggilan sehari-hari
Monang; seorang putra
Batak tulen yang dilahirkan di Riau daratan 42 tahun
yang lalu.
Pengusaha yang satu ini benar-benar unik. Riwayat
hidup bisnisnya diwarnai
oleh seribu satu macam pengalaman. Perkenalan pertama
saya dengan Monang
terjadi 7 tahun yang lalu ketika kami sama-sama
bekerja pada PICA S.A.
Group, sebuah lembaga keuangan multi nasional yang
beroperasi di
berbagai negara Asia dan Facific, termasuk Indonesia.
Pada tahun 1983 Monang
mengundurkan diri dari PICA karena ingin bergabung
dengan teman-teman
dekatnya untuk mendirikan PT Pamor Cipta Inti, sebuah
perusahaan leasing
di Jakarta. Sejak itu hanya sesekali kami sempat
bertemu, karena
masing-masing pihak sibuk oleh pekerjaannya sendiri.

Monang mempunyai latar belakang pendidikan yang sangat
baik. Pada tahun
1969 dia berhasil memperoleh gelar sarjana ekonomi
dari Universitas
Indonesia. Dua tahun berikutnya Monang mengikuti
executives development
program yang diselenggarakan oleh CITIBANK di Kuala
Lumpur, Malaysia.
Lalu pada tahun 1978 menjalani top executive training
di Orient Leasing
Company di Osaka dan Tokyo, Jepang. Perjalanan karier
bisnisnya dimulai
sejak ia masih mahasiswa sebagai seorang wiraniaga PT
Grolier
International. Bertahun-tahun si mahasiswa Batak ini
keluar masuk kantor-kantor
pemerintah dan swasta maupun rumah-rumah elite untuk
menjajakan
buku-buku eksiklopedia. Dari hasil penjualan buku itu
Monang mendapatkan komisi
cukup besar untuk ukuran mahasiswa. Dengan demikian
diapun
mampuberdikari mebiayai kuliahnya. Karier wiraniaga
tanpa dia sadari telah
memberikan pedoman bisnis yang hingga kini dipegang
teguh, yaitu: Janganlah
berbantah dengan pelanggan, melainkan yakinkanlah
mereka bahwa hasil
produksimu memberikan manfaatr yang mereka cari."

Grolier ditinggalkannya pada tahun 1971 karena
mendapat tawaran
pekerjaan yang lebih menarik di CITIBANK, sebuah bank
raksasa dari Amerika
yang membuka kantor cabang di Jakarta. Mulailah Monang
yang sudah sarjana
itu merangkak dari jabatan administratif terbawah di
CITIBANK yaitu
clerk sampai jabatan tingkat menengah, loan office
pada tahun 1976, ketika
dia memutuskan untuk pindah pekerjaan ke PT OBUL,
sebuah perusahaan
leasing patungan Jepang-Indonesia. Monang hanya tahan
3 tahun di OBUL
karena datangnya tawaran kerja yang lebih menarik lagi
yaitu dari PICA S.A
yang kemudian digelutinya selama 5 tahun.

Program Pengembangan Keahlian Karyawan

Banyak pengalaman yang berhasil ditimba selama karier
pekerjaannya di
CITIBANK, tetapi satu yang hingga kini melekat pada
Monang yaitu Program
Pengembangan Keahlian Karyawan. Walaupun CITIBANK
sebuah bank, namun
keahlian para staf inti mereka tidak dikembangkan ke
arah dunia perbankan
semata-mata. Di samping pengetahuan tentang perbankan,
para staf
digembleng dalam keahlian manajemen yang bisa
diterapkan di berbagai macam
usaha bisnis serta berbagai macam watak unggul seperti
disiplin, efisien,
inovatif, kreatif, tepat waktu dan hemat tetapi tidak
kikir.

Kelak ketika Monangterjun dalam dunia bisnis sebagai
seorang pengusaha,
keahlian manajemen dan gemblengan watak unggul
tersebut ternyata banyak
sekali manfaatnya. "Pengusaha harus kreatif dan
inovatif," katanya
waktu kami duduk ngobrol di warung kopi sebuah hotel
di Jakarta. "Apa yang
ditemukan oleh seorang pengusaha dan laris dijual di
pasaran itu tidak
akan tahan lama," sambungnya. "Begitu produkmu laris,
maka
berbondong-bondonglah pengusaha lain menjiplaknya.
Apalagi di tanah air kita ini,
yang namanya proteksi patent itu belum ada. Oleh
karena itu pengusaha
harus selalu berusaha menemukan barang dan jasa atau
cara layanan yang
baru, sehingga kalau yang lama dijiplak muncullah yang
baru."

Monang juga terkesan atas cara CITIBANK membekali
stafnya dengan
keahlian manajemen yang bersifat umum. Menurut Monang
keahlian tersebut
merupakan balas jasa nonfinansial yang sangat besar
manfaatnya bagi karyawan
apabila mereka kelak ingin atau terpaksa pindah
pekerjaan. Karyawan
adalah manusia, kata Monang. Mereka itu menginginkan
perubahan termasuk
pekerjaan. Tidak setiap karyawan bersedia teken
kontrak sampai mati
dengan sebuah perusahaan di mana mereka bekerja. Kalau
sudah bertahun-tahun
mengabdikan diri pada suatu perusahaan, seorang
karyawan ingin berganti
pekerjaan, pengusaha yang bersangkutan harus membantu
karyawan yang
baik tersebut mndapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Membekali staf dengan
keahlian manajemen, menurut Monang merupakan salah
satu cara perusahaan
dapat membantu karyawannya kelak mendapatkan pekerjaan
lain yang lebih
baik, apabila hal tersebut diinginkan atau terpaksa
dilakukan.

Suka Duka Membangun Ciputri

Satu tahun yang lalu saya pernah duduk termangu,
ketika pada suatu
siang seorang gadis mendatangi kantor saya dengan
sebuah amplop undangan di
tangan. "Saya disuruh Pak Sinaga menemui Bapak untuk
menawarkan
undangan pembukaan rumah makan beliau di Ciputri,
Puncak. Kepada Bapak akan
disuguhkan udara sejuk pegunungan, makanan khas
Indonesia dengan cara
penyajian Eropa dan hiburan musik jazz oleh Ireng
Maulana," kata gadis
tersebut.

Inovasi apalagi yang dimunculkan pengusaha Batak ini,"
pikir saya. Dua
tahun yang lalu dia mendirikan sebuah perusahaan
leasing, lalu sebuah
perusahaan konsultan, sekarang sebuah rumah makan di
daerah pegunungan.

Ketika saya menghadiri undangan pembukaan rumah makan
itu, tidak banyak
waktu yang dapat saya gunakan untuk ngobrol dengannya.
Di luar dugaan
saya tamu-tamu dari Jakarta yang bersedia merogoh
dompet membeli
undangan ternyata luar biasa banyaknya. Beberapa di
antara mereka saya kenal
pejabat-pejabat penting dari perusahaan swasta maupun
instansi
pemerintah.

Waktu berpisah kami berjanji akan bertemu lagi minggu
depan untuk
membicarakan rumah makannya. Nampaknya janji tinggal
janji, karena kesibukan
saya sendiri ternyata baru sebelas bulan kemudian saya
kembali ngobrol
di rumah makan tersebut sambil menikmati lontong tahu,
ikan mas bakar
dan kopi juragan makanan dan minuman favorit rumah
makan Ciputri.

Monang kelihatan sedikit kurus walaupun wajahnya
nampak cerah
menandakan kehangatan bathin. "How is your restaurant
business; bagaimana
perkembangan bisnis rumah makanmu?" tanyaku. Monang
segera bercerita panjang
lebar, mulai dari motif yang mempengaruhinya membuka
rumah makan
Ciputri, program pengembangan keahlian karyawannya,
tamu-tamu rumah makan
sampai kesulitan yang dihadapi oleh rumah makan
barunya untuk mendapatkan
kredit investasi kecil dari bank.

Monang mendirikan rumah makan Ciputri, yang seratus
persen dimilikinya
karena ingin menjadi tuan dari pekerjaannya. Dengan
Ciputri, Monang
dapat memperoleh kebebasan penuh untuk menerapkan
aneka ragam keahlian dan
pengalaman bisnis yang diperolehnya dari berbagai
macam perusahaan
tempatnya bekerja dulu.

Ciputri yang berjarak 100 kilometer dari Jakarta itu
hanyalah kecamatan
saja. Merekrut tenaga kerja yang berpengalaman untuk
melayani turis
dari Jakarta dan Bandung, kadangkala juga turis asing
bukanlah pekerjaan
mudah di kecamatan ini. Rata-rata pemuda-pemudi
Ciputri yang
berpendidikan SLTA atau SLTP tersebut hanya mampu
melayani tamu rumah makan biasa.
Namun Monang tidak putus asa. Dengan pengalamannya
dalam program
pengembangan keahlian karyawan di CITIBANK Monang
mulai menggembleng 12 orang
karyawannya agar mampu memasak dan menghidangkan
masakan-masakan
tradisional Indonesia dengan gaya Eropa.
Didatangkannya seorang ahli rumah
makan dari Jakarta yang telah berpengalaman lebih dari
16 tahun mengelola
rumah makan internasional dan rumah makan dalam hotel
kelas satu. Hasil
yang dicapai cukup memuaskan. Dalam waktu 3 bulan
karyawan-karyawan
tersebut telah mampu menghidangkan makan siang kepada
satu rombongan turis
dari Belanda yang sedang dalam perjalanan
berdarmawisata ke Bandung
secara memusakan.

Monang memilih Ciputri sebagai lokasi bisnis rumah
makannya karena
tempat itu terletak ditengah-tengah jarak antara
Jakarta dan Bandung.
Dengan demikian Monang dapat mengharapkan baik para
pengendara mobil dari
Bandung ke Jakarta maupun sebaliknya telah merasa
lelah di tempat itu dan
ingin istirahat makan dan minum di rumah makannya.

Buat dia dengan mendirikan rumah makan Ciputri itu
tersalurlah
keinginannya untuk bekerja keras, namun tidak
kehilangan kesempatan menikmati
kenikmatan berpariwisata. Rumah makannya menghadap
jalan raya dan
membelakangi sawah dan pegunungan itu benar-benar
suatu tempat rekreasi yang
mengasyikan. "Sis ...." katanya dengan senyum ceria
"walaupun tidak
besar-besaran, namun dengan rumah makanku ini aku
telah ikut membantu
usaha pemerintah untuk membendung arus urbanisasi."
Menciptakan lapangan
kerja untuk pemuda-pemudi pedesaan memang salah satu
motivasi Monang
untuk mendirikan rumah makan itu.

Tidak hanya 12 orang karyawan langsungnya yang dapat
dihidupi oleh
Monang. Tiap hari Minggu siang rumah makan ini
menyuguhkan "vocal Group
songs" kepada tamu-tamu yang kadang-kadang mencapai
200 orang itu. Dengan
suguhan "vocal group songs" secara tetap Monang juga
dapat memberikan
nafkah kepada ara pemainnya.

Dari dua kali kunjungan saya ke rumah makan di pinggir
jalan raya
Jakarta - Bandung itu dapat saya lihat bahwa rasa
"melu handarbeni" para
karyawannya terhadap perusahaan tempat mereka bekerja
cukup tinggi. Di
samping balas jasa dan program pengemabangan keahlian
yang terarah,
menurut Monang rasa ikut memiliki perusahaan yang
tinggi di kalangan
karyawannya itu timbul karena contoh baik yang
diberikan kepada mereka.
"Walaupun aku pemilik rumah makan ini," katanya "aku
tidak pernah bergaya
priyayi atau menak yang hanya pandai paring dawuh -
memberi instruksi,"
katanya.

Monang selalu menanmkan jiwa unggul kepada para
karyawannya. Bagi
Monang dan karyawan rumah makan Ciputri, tidak ada
pekerjaan yang rendah
derajatnya asal pekerjaan itu halal. Walhasil Monang
yang sarjana ekonomi
itu sering mengemudi truk mini hi-jet merahnya
berbelanja sayur dan
daging untuk rumah makannya. Tidak jarang pula Monang
yang eksloan officer
CITIBANK dan senior investment PICA A.S itu
bersama-sama karyawannya
beramai-ramai membuang sampah. "Bagiku membuang sampah
untuk menjaga
kebersihan rumah makan yang menghidupi sekian banyak
orang ini," katanya
"adalah jauh lebih tinggi nilainya dari pada
menyalahgunakan jabatan
untuk sekedar mendapatkan komisi atau saham kosong."

Disiplin yang tinggi, tekun, ulet, jujur, hemat
merupakan sifat-sifat
yang unggul yang terus menerus dipompakan oleh Monang
kepada anak
buahnya, di samping sikap-sikap optimis, ceria dan
penuh humor tanpa
meninggalkan sopan sangtun dalam melayani tamu.

Lalu apakah rumah makan ini tidak pernah mengalami
kesulitan? "Oh,
pernah...," jawab Monang "terutama dalam bidang
pengadaan dana
operasional." Monang membeli seribu meter persegi
tanah tanah di pinggir jalan dan
membangunnya menjadi rumah makan bergaya arsistik itu
dengan seluruh
dana simpanan yang dihasilkannya selama
bertahun-tahun. Untuk modal
kerjanya, dua mobil pribadinya dijual. Monang tidak
menduga sebelumnya bahwa
tamu-tamu rumah makannya, terutama dihari-hari Sabtu
dan Minggu
demikian banyak jumlahnya dan perkembangannya pesat.

Sehari demi sehari Monang mulai merasakan bahwa dana
modal kerja yang
diperoleh dari hasil penjualan mobil pribadi tersebut
jauh dari
mencukupi. Segeralah Monang menghubungi bank-bank
untuk mengajukan permintaan
kredit investasi kecil dan modal kerja permanen untuk
membiayai
pengaspalan tempat parkir mobil tamu dan tambahan dana
modal kerja rumah
makannya. Hasilnya ...... nol. "Itulah ironinya," kata
Monang "waktu aku
bekerja di CITIBANK, PICA, OBUL dan Pamor Cipta Inti
Leasing, aku sering
ikut berperanan dalam pemberian kredit milyaran rupiah
kepada para
pengusaha. Tapi kini waktu aku mengubah diriku menjadi
seorang pengusaha
kecil, mencari KIK dan KMKP pun dapat kesulitan,"
tuturnya.

But the show must go on, operasi rumah makannya harus
berkembang terus,
demikian pedoman pengusaha kecil yang satu ini. Kalau
KIK dan KMKP
tidak juga kunjung datang, sumber dana lain harus
dicari. Monang berunding
dengan anggota keluarganya, dengan hasil mufakat
satu-satunya mobil
kebanggan keluarga yang masih tinggal, VOLVO 244 GL,
dijual, dilipat
dijadikan duit untuk mengaspal tempat parkir tamu dan
tambahan dana modal
kerja rumah makannya. Kini keluarga pengusaha kecil
itu tinggal mempunyai
satu mini truk Suzuki hijet cat merah yang dipakai
...untuk berbelanja,
mondar mandir Jakarta-Ciputri, untuk urusan pekerjaan
lain dan untuk
apa saja.

TANTANGAN BAGI PARA MUDA
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat dua puluh
menit malam waktu
saya pamit pulang ke Jakarta setelah hampir enam jam
kami ngobrol.
Tidak terasa empat cangkir kopi juragan telah saya
minum selama ngobrol.
Dalam perjalanan pulang dalam hati saya katakan "Horas
Monang, semoga
rumah makan Ciputrimu dapat menjadi contoh bagi
sarjana muda usia dalam
usaha mereka untuk turut mengisi kemerdekaan
bangsanya.

Kebahagiaan sebagai pilihan...

Kebahagiaan sebagai pilihan

Pada suatu zaman di Tiongkok, hiduplah seorang jenderal besar yang selalu menang dalam setiap pertempuran. Karena itulah, ia dijuluki "Sang Jenderal Penakluk" oleh rakyat. Suatu ketika, dalam sebuah pertempuran, ia dan pasukannya terdesak oleh pasukan lawan yang berkali lipat lebih banyak.

Mereka melarikan diri, namun terangsak sampai ke pinggir jurang. Pada saat itu para prajurit Sang Jenderal menjadi putus asa dan ingin menyerah kepada musuh saja. Sang Jenderal segera mengambil inisiatif, "Wahai seluruh pasukan, menang-kalah
sudah ditakdirkan oleh dewa-dewa. Kita akan menanyakan kepada para dewa, apakah hari ini kita harus kalah atau akan menang. Saya akan melakukan tos dengan keping keberuntungan ini! Jika sisi gambar yang muncul, kita akan menang. Jika sisi angka yang muncul, kita akan kalah! Biarlah dewa-dewa yang menentukan!" seru Sang Jenderal sambil melemparkan kepingnya untuktos.

Ternyata sisi gambar yang muncul! Keadaan itu disambut histeris oleh pasukan Sang Jenderal, "Hahaha… dewa-dewa di pihak kita! Kita sudah pasti menang!!!" Dengan semangat membara, bagaikan kesetanan mereka berbalik menggempur balik pasukan lawan. Akhirnya, mereka benar-benar berhasil menunggang-langgangkan lawan yang berlipat-lipat banyaknya.

Pada senja pasca-kemenangan, seorang prajurit berkata kepada Sang Jenderal, "Kemenangan kita telah ditentukan dari langit, dewa-dewa begitu baik terhadap kita."

Sang Jenderal menukas, "Apa iya sih?" sembari melemparkan keping keberuntungannya kepada prajurit itu. Si prajurit memeriksa kedua sisi keping itu, dan dia hanya bisa melongo ketika mendapati bahwa ternyata kedua sisinya adalah gambar.

Memang dalam hidup ini ada banyak hal eksternal yang tidak bisa kita ubah; banyak hal yang terjadi tidak sesuai dengan kehendak kita. Namun demikian, pada dasarnya dan pada akhirnya, kita tetap bisa mengubah pikiran atau sisi internal kita sendiri: untuk menjadi bahagia atau menjadi tidak berbahagia. Jika bahagia atau tidak bahagia diidentikkan dengan nasib baik atau nasib buruk, jadi sebenarnya nasib kita tidaklah ditentukan oleh siapa-siapa, melainkan oleh diri kita sendiri. Ujung-ujungnya, kebahagiaan adalah sebuah pilihan proaktif

Kebahagiaan sebagai pilihan

Kebahagiaan sebagai pilihan

Pada suatu zaman di Tiongkok, hiduplah seorang jenderal besar yang selalu menang dalam setiap pertempuran. Karena itulah, ia dijuluki "Sang Jenderal Penakluk" oleh rakyat. Suatu ketika, dalam sebuah pertempuran, ia dan pasukannya terdesak oleh pasukan lawan yang berkali lipat lebih banyak.

Mereka melarikan diri, namun terangsak sampai ke pinggir jurang. Pada saat itu para prajurit Sang Jenderal menjadi putus asa dan ingin menyerah kepada musuh saja. Sang Jenderal segera mengambil inisiatif, "Wahai seluruh pasukan, menang-kalah
sudah ditakdirkan oleh dewa-dewa. Kita akan menanyakan kepada para dewa, apakah hari ini kita harus kalah atau akan menang. Saya akan melakukan tos dengan keping keberuntungan ini! Jika sisi gambar yang muncul, kita akan menang. Jika sisi angka yang muncul, kita akan kalah! Biarlah dewa-dewa yang menentukan!" seru Sang Jenderal sambil melemparkan kepingnya untuktos.

Ternyata sisi gambar yang muncul! Keadaan itu disambut histeris oleh pasukan Sang Jenderal, "Hahaha… dewa-dewa di pihak kita! Kita sudah pasti menang!!!" Dengan semangat membara, bagaikan kesetanan mereka berbalik menggempur balik pasukan lawan. Akhirnya, mereka benar-benar berhasil menunggang-langgangkan lawan yang berlipat-lipat banyaknya.

Pada senja pasca-kemenangan, seorang prajurit berkata kepada Sang Jenderal, "Kemenangan kita telah ditentukan dari langit, dewa-dewa begitu baik terhadap kita."

Sang Jenderal menukas, "Apa iya sih?" sembari melemparkan keping keberuntungannya kepada prajurit itu. Si prajurit memeriksa kedua sisi keping itu, dan dia hanya bisa melongo ketika mendapati bahwa ternyata kedua sisinya adalah gambar.

Memang dalam hidup ini ada banyak hal eksternal yang tidak bisa kita ubah; banyak hal yang terjadi tidak sesuai dengan kehendak kita. Namun demikian, pada dasarnya dan pada akhirnya, kita tetap bisa mengubah pikiran atau sisi internal kita sendiri: untuk menjadi bahagia atau menjadi tidak berbahagia. Jika bahagia atau tidak bahagia diidentikkan dengan nasib baik atau nasib buruk, jadi sebenarnya nasib kita tidaklah ditentukan oleh siapa-siapa, melainkan oleh diri kita sendiri. Ujung-ujungnya, kebahagiaan adalah sebuah pilihan proaktif.