Sunday, October 19, 2008

9 dari 10 Kekayaan Ada di Tangan Pedagang

Enterpreneurship (kewirausahaan), dalam beberapa tahun terakhir 
menjadi topik yang makin sering dibicarakan. Krisis ekonomi yang
melanda Indonesia sejak pertengahan 1997 telah mengajarkan kepada
masyarakat bahwa menggantungkan harapan kepada orang lain (bekerja pada
orang lain) sudah bukan lagi pilihan utama sebagaimana yang selama ini
selalu diajarkan oleh para orang tua kita
sejak kita masih kecil. Krisis ekonomi telah menimbulkan gelombang
pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menimpa jutaan pegawai. Angka
pengangguran melonjak drastis. Baik mereka yang menganggur karena belum
juga dapat pekerjaan, baru lulus kuliah, maupun para penganggur baru
yang berasal dari perusahaan-perusahaan yang bangkrut.

Di sisi lain, krisis ekonomi telah menumbuhkan ''berkah'' berupa 
lahirnya para enterpreneur (wirausahawan) baru. Mereka ini adalah 
orang-orang yang jeli melihat peluang, dan tak gamang menghadapi 
kesulitan-kesulitan. Ketika banyak orang meratapi nasibnya yang malang

akibat terkena PHK dan tak juga dapat pekerjaan, mereka mengarahkan 
segenap daya dan upaya untuk menciptakan lapangan kerja bagi dirinya 
sendiri maupun orang lain.

Mereka menyadari bahwa jalan untuk meraih sukes, kekayaan maupun 
kebahagiaan bukanlah dengan menjadi kuli, melainkan menjadi bos bagi 
diri sendiri dan orang lain. Mereka menyadari bahwa rezeki itu 
sebagian besar ada di tangan pengusaha, bukan di tangan pekerja. 
''Nabi Muhammad pernah mengatakan bahwa sembilan dari 10 kekayaan 
berada di tangan pedagang, sedangkan sisanya yang hanya satu bagian 
itu dibagi-bagi di antara sekian banyak orang yang lebih memilih 
menjadi pekerja,'' kata Presiden Direktur/CEO PT Foodland Adam Mandiri

Islami (Foodland), Novian Mas'ud, pada pembukaan showroom Foodland 
Shohib dan Stock Center Manajemen Qolbu Barokah di Cipondoh, 
Tangerang, pekan lalu. Karena itulah, kata Novian, masyarakat kini 
sebaiknya lebih memperhatikan aspek pengembangan ekonomi, khususnya 
bidang kewirausahaan. ''Nabi menganjurkan umatnya untuk menjadi 
pengusaha, bukan menjadi pekerja,'' tandasnya.

Novian menambahkan, sejarah pengembangan Islam di zaman Rasulullah 
penuh dengan contoh para konglomerat yang mengembangkan bisnisnya
untuk kepentingan masyarakat luas. ''Kita mengenal nama-nama seperti
Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Mereka adalah konglomerat di
zamannya. Istri Rasulullah, Siti Khadijah juga merupakan konglomerat,''
paparnya. Menurut Novian, para konglomerat Muslim di masa lalu telah
menerapkan prinsip-prinsip ekonomi syariah, yang dilandasi pada dua hal,
yakni halal dan thoyyib. Artinya, bisnis tersebut tidak hanya halal,
tapi juga harus baik. Baik sumbernya, prosesnya, maupun hasil akhirnya.
''Salah satu aplikasi ekonomi syariah itu adalah ritel syariah,'' kata
pengusaha yang sejak Desember 2004 mengembangkan showroom Foodland
Shohib dan sedang menyiapkan pendirian hipermarket halal
Foodland.

Hal senada dinyatakan oleh KH Idup Indrawan, pimpinan Yayasan Yatim Al

Mubarok, Cipondoh, Tangerang. ''Rasullah, sejak masa mudanya telah
menekankan pentingnya berbisnis. Beliau telah merintis usaha bisnis
sejak masih usia belasan tahun. Beliau juga telah mencontohkan bagaimana
cara berbisnis yang baik, yakni bisnis yang dilandasi oleh kejujuran dan
keterbukaan, aman dan
kecerdasan, sehingga Beliau digelari Al Amin, artinya orang yang dapat
dipercaya,'' tegasnya. Menurut Idup Indrawan, kewirausahaan menjadi
sangat penting bagi umat Muslim untuk mengejar ketertinggalannya di
bidang ekonomi. ''Selama ini umat Islam hanya menjadi penonton, sehingga
ekonomi dikuasai oleh umat lain. Kalau umat Islam ingin bangkit dari
ketertinggalan di bidang ekonomi, maka umat Islam harus mengarahkan
kembali perhatiannya pada bidang ekonomi seperti yang pernah dicontohkan
oleh Rasulullah dan para sahabat dahulu,'' tandasnya.

Pemilik Foodland Shohib dan Stock Center Cipondoh, Masrukin mengatakan

pada dasarnya setiap orang mempunyai bakat untuk berbisnis. ''Asalkan
kita menyadari potensi kita dan mau bersatu, insya Allah kita bisa
menjadi pengusaha yang berhasil,'' tuturnya. Masrukin lalu mencontohkan
falsafah jari-jari tangan. Ibu jari berarti setiap orang punya kekuatan
dan potensi. Telunjuk berarti motivasi. Jari tengah menandakan perlunya
keseimbangan antara dunia dan akhirat, jasmani
dan rohani. Jari manis bisa tegak kalau ditopang oleh tangan yang satu
lagi, artinya perlu kolaborasi dengan pihak lain. Sedangkan kelingking,
sebagai jari yang paling kecil mengandung falsafah jangan sampai hal-hal
kecil mengganggu suatu usaha bisnis. ''Semua jari itu bisa mengepal bila
ditopang oleh telapak tangan. Artinya, untuk sukses bisnis, kita harus
bersatu. Sumberdaya yang ada harus dikelola dengan baik. Artinya, perlu
manajemen yang baik,'' ujar Masrukin.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home