Sunday, October 19, 2008

Bunga Mawar dan Pohon Cemara

Konon di tengah hutan, bunga mawar menertawakan pohon cemara seraya
berkata; "Meskipun anda tumbuh begitu tegap, tetapi anda tidak
memiliki keharuman sehingga tidak dapat menarik kumbang dan
lebah untuk mendekat."

Pohon cemara diam saja. Demikianlah bunga mawar di mana-mana
menyiarkan dan menceritakan tampak buruk pohon cemara, sehingga
membuat pohon cemara tersingkir dan menyendiri di tengah hutan.

Ketika musim dingin datang dan turun salju yang lebat, bunga mawar
yang sombong sangat sulit mempertahankan kehidupannya.
Demikian pula dengan pohon dan bunga-bunga lainnya. Hanya pohon cemara
yang masih tegak berdiri di tengah badai dingin yang menerpa bumi.

Di tengah malam yang sunyi, salju berbincang-bincang dengan
pohon cemara. Salju berkata; "Setiap tahun saya datang ke bumi
ini, selalu melihat kemakmuran dan keramaian di bumi menjadi berubah.
Hanya gersang dan sunyi senyap yang menyelimuti bumi. Namun,
kamulah satu-satunya yang dapat melewati ujian saya dan berdiri
tegak hingga dapat menahan segala macam tekanan alam. Begitu pula alam
kehidupan dan manusia selalu mengalami perubahan."

Demikianlah pembicaraan menarik antara pohon cemara dan salju yang
terjadi di tengah malam pada musim dingin. Sedih dan gembira selalu
datang silih berganti; hanya dengan keteguhan jiwa dan pikiran, maka
kebahagiaan itu akan dapat kita raih. Caci maki dan fitnah tidak dapat
menjatuhkan orang yang kuat.

Di dalam ungkapan Timur sering terdapat kata kata :
"Menengadah ke langit dan membuang ludah." dan "Menabur debu dengan angin
yang berlawanan."

Ini semua mengisahkan kebodohan-kebodohan yang dilakukan seseorang dan
pada akhirnya mencelakakan dirinya sendiri. Menghadapi fitnahan dan
celaan, hendaknya seseorang berlapang dada bagaikan langit besar yang
tak bertepi.

Cuaca terang dan berawan selalu silih berganti. Belajar bagaikan
cermin yang jernih dapat melihat keadaan sebenarnya.

Bunga mawar hanya merasakan kepuasan dan kecongkakan sejenak, tetapi
pohon cemara dapat menghadapi, menerima dan menahan diri
dengan tenang dan sabar.

Kita harus belajar dari sifat pohon cemara yang tegar menahan
serangan, baik serangan yang bersifat tindakan, ucapan maupun pikiran;
dan menjadikannya sesuatu yang sejuk, hangat dan damai.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home