Saturday, May 14, 2005

Teriak

Teriak

Suatu ketika di sebuah sekolah, diadakan pementasan drama. Pentas
drama yang meriah, dengan pemain yang semuanya siswa-siswi disana.
Setiap anak mendapat peran, dan memakai kostum sesuai dengan tokoh
yang diperankannya. Semuanya tampak serius, sebab Pak Guru akan
memberikan hadiah kepada anak yang tampil terbaik dalam pentas.

Sementara di depan panggung,
semua orangtua murid ikut hadir dan menyemarakkan acara itu.
Lakon drama berjalan dengan sempurna. Semua anak tampil dengan
maksimal. Ada yang berperan sebagai petani, lengkap dengan cangkul
dan topinya, ada juga yang menjadi nelayan, dengan jala yang
disampirkan di bahu. Di sudut sana, tampak pula seorang anak dengan
raut muka ketus, sebab dia kebagian peran pak tua yang pemarah,
sementara di sudut lain, terlihat anak dengan wajah sedih, layaknya
pemurung yang selalu menangis. Tepuk tangan dari para orangtua dan
guru kerap terdengar, di sisi kiri dan kanan panggung.

Tibalah kini akhir dari pementasan drama. Dan itu berarti, sudah
saatnya Pak Guru mengumumkan siapa yang berhak mendapat hadiah.
Setiap anak tampak berdebar dalam hati, berharap mereka terpilih
menjadi pemain drama yang terbaik. Dalam komat-kamit mereka berdoa, supaya Pak Guru akan menyebutkan nama mereka, dan mengundang ke atas panggung untuk menerima hadiah. Para orangtua pun ikut berdoa, membayangkan anak mereka menjadi yang terbaik.

Pak Guru telah menaiki panggung, dan tak lama kemudian ia menyebutkan sebuah nama. Ahha...ternyata, anak yang menjadi pak tua pemarah lah yang menjadi juara. Dengan wajah berbinar, sang anak bersorak gembira. "Aku menang...", begitu ucapnya. Ia pun bergegas menuju panggung, diiringi kedua orangtuanya yang tampak bangga. Tepuk tangan terdengar lagi. Sang orangtua menatap sekeliling, menatap ke seluruh hadirin. Mereka bangga.

Pak Guru menyambut mereka. Sebelum menyerahkan hadiah, ia sedikit
bertanya kepada sang "jagoan, "Nak, kamu memang hebat. Kamu pantas
mendapatkannya. Peranmu sebagai seorang yang pemarah terlihat bagus
sekali. Apa rahasianya ya, sehingga kamu bisa tampil sebaik ini? Kamu
pasti rajin mengikuti latihan, tak heran jika kamu terpilih menjadi
yang terbaik.." tanya Pak Guru, "Coba kamu ceritakan kepada kami
semua, apa yang bisa membuat kamu seperti ini..".

Sang anak menjawab, "Terima kasih atas hadiahnya Pak. Dan sebenarnya saya harus berterima kasih kepada Ayah saya dirumah. Karena, dari Ayah lah saya belajar berteriak dan menjadi pemarah. Kepada Ayah lah saya meniru perilaku ini. Ayah sering berteriak kepada saya, maka, bukan hal yang sulit untuk menjadi pemarah seperti Ayah."

Tampak sang Ayah yang mulai tercenung. Sang anak mulai melanjutkan,
"..Ayah membesarkan saya dengan cara seperti ini, jadi peran ini,
adalah peran yang mudah buat saya..."
Senyap. Usai bibir anak itu terkatup, keadaan tambah senyap.
Begitupun kedua orangtua sang anak di atas panggung, mereka tampak
tertunduk. Jika sebelumnnya mereka merasa bangga, kini keadaannya
berubah. Seakan, mereka berdiri sebagai terdakwa, di muka pengadilan.
Mereka belajar sesuatu hari itu. Ada yang perlu diluruskan dalam
perilaku mereka.

***

Teman, setiap anak, adalah duplikat dari orang di sekitarnya. Setiap
anak adalah peniru, dan mereka belajar untuk menjadi salah satu dari
kita. Mereka akan belajar untuk menjadikan kita sebagai contoh,
sebagai panutan dalam bertindak dan berperilaku. Mereka juga akan
hadir sebagai sosok-sosok cermin bagi kita, tempat kita bisa berkaca
pada semua hal yang kita lakukan. Mereka laksana air telaga yang
merefleksikan bayangan kita saat kita menatap dalam hamparan perilaku
yang mereka perbuat.

Namun sayang, cermin itu meniru pada semua hal. Baik, buruk, terpuji
ataupun tercela, di munculkan dengan sangat nyata bagi kita yang
berkaca. Cermin itu juga menjadi bayangan apapun yang ada di
depannya. Telaga itu adalah juga pancaran sejati terhadap setiap
benda di depannya. Kita tentu tak bisa, memecahkan cermin atau
mengoyak ketenangan telaga itu, saat melihat gambaran yang buruk.
Sebab, bukankah itu sama artinya dengan menuding diri kita sendiri?

Teman, saya ingin berpesan kepada kita semua, "berteriaklah kepada
anak-anak kita saat kita marah, maka, kita akan membesarkan seorang
pemarah. Bermuka ketuslah kepada mereka saat kita marah, maka kita
akan membesarkan seorang pembenci, dan biarkanlah mulut dan tangan
kita yang bekerja saat kita marah, maka kita akan belajar menciptakan
seorang yang penuh dengki..."

Peran apakah yang sedang kita ajarkan kepada anak-anak kita saat ini?
Contoh apakah yang sedang kita berikan kali ini? Dan panutan apakah
yang sedang kita tampilkan? Teman, percayalah, mereka akan selalu
belajar dari kita, dari orang yang terdekatnya, dari orang yang
mencintainya. Merekalah lingkaran terdekat kita, tempat mereka
belajar, menerima kasih sayang, dan juga tempat mereka meniru dalam
berperilaku.

Saya berharap, bisa menjadi orang yang sabar saat melihat seorang
anak menumpahkan air di gelas yang mereka pegang. Saya berharap
menjadi orang yang ikhlas, saat melihat mereka memecahkan piring
makan mereka sendiri. Sebab, bukankah mereka baru "belajar" memeganggelas dan piring itu selama 5 tahun, sedangkan kita telah mengenalnya sejak lebih 20 tahun? Tentu mereka akan butuh waktu untuk bisa seperti kita. Teman, terima kasih telah membaca. Hope you are well and please do take care.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home