Kerja keras Monang sip pengusaha (inspirated stories)
Kerja keras Monang sip pengusaha (inspirated stories)
Namanya Hamonangan Sinaga, panggilan sehari-hari
Monang; seorang putra
Batak tulen yang dilahirkan di Riau daratan 42 tahun
yang lalu.
Pengusaha yang satu ini benar-benar unik. Riwayat
hidup bisnisnya diwarnai
oleh seribu satu macam pengalaman. Perkenalan pertama
saya dengan Monang
terjadi 7 tahun yang lalu ketika kami sama-sama
bekerja pada PICA S.A.
Group, sebuah lembaga keuangan multi nasional yang
beroperasi di
berbagai negara Asia dan Facific, termasuk Indonesia.
Pada tahun 1983 Monang
mengundurkan diri dari PICA karena ingin bergabung
dengan teman-teman
dekatnya untuk mendirikan PT Pamor Cipta Inti, sebuah
perusahaan leasing
di Jakarta. Sejak itu hanya sesekali kami sempat
bertemu, karena
masing-masing pihak sibuk oleh pekerjaannya sendiri.
Monang mempunyai latar belakang pendidikan yang sangat
baik. Pada tahun
1969 dia berhasil memperoleh gelar sarjana ekonomi
dari Universitas
Indonesia. Dua tahun berikutnya Monang mengikuti
executives development
program yang diselenggarakan oleh CITIBANK di Kuala
Lumpur, Malaysia.
Lalu pada tahun 1978 menjalani top executive training
di Orient Leasing
Company di Osaka dan Tokyo, Jepang. Perjalanan karier
bisnisnya dimulai
sejak ia masih mahasiswa sebagai seorang wiraniaga PT
Grolier
International. Bertahun-tahun si mahasiswa Batak ini
keluar masuk kantor-kantor
pemerintah dan swasta maupun rumah-rumah elite untuk
menjajakan
buku-buku eksiklopedia. Dari hasil penjualan buku itu
Monang mendapatkan komisi
cukup besar untuk ukuran mahasiswa. Dengan demikian
diapun
mampuberdikari mebiayai kuliahnya. Karier wiraniaga
tanpa dia sadari telah
memberikan pedoman bisnis yang hingga kini dipegang
teguh, yaitu: Janganlah
berbantah dengan pelanggan, melainkan yakinkanlah
mereka bahwa hasil
produksimu memberikan manfaatr yang mereka cari."
Grolier ditinggalkannya pada tahun 1971 karena
mendapat tawaran
pekerjaan yang lebih menarik di CITIBANK, sebuah bank
raksasa dari Amerika
yang membuka kantor cabang di Jakarta. Mulailah Monang
yang sudah sarjana
itu merangkak dari jabatan administratif terbawah di
CITIBANK yaitu
clerk sampai jabatan tingkat menengah, loan office
pada tahun 1976, ketika
dia memutuskan untuk pindah pekerjaan ke PT OBUL,
sebuah perusahaan
leasing patungan Jepang-Indonesia. Monang hanya tahan
3 tahun di OBUL
karena datangnya tawaran kerja yang lebih menarik lagi
yaitu dari PICA S.A
yang kemudian digelutinya selama 5 tahun.
Program Pengembangan Keahlian Karyawan
Banyak pengalaman yang berhasil ditimba selama karier
pekerjaannya di
CITIBANK, tetapi satu yang hingga kini melekat pada
Monang yaitu Program
Pengembangan Keahlian Karyawan. Walaupun CITIBANK
sebuah bank, namun
keahlian para staf inti mereka tidak dikembangkan ke
arah dunia perbankan
semata-mata. Di samping pengetahuan tentang perbankan,
para staf
digembleng dalam keahlian manajemen yang bisa
diterapkan di berbagai macam
usaha bisnis serta berbagai macam watak unggul seperti
disiplin, efisien,
inovatif, kreatif, tepat waktu dan hemat tetapi tidak
kikir.
Kelak ketika Monangterjun dalam dunia bisnis sebagai
seorang pengusaha,
keahlian manajemen dan gemblengan watak unggul
tersebut ternyata banyak
sekali manfaatnya. "Pengusaha harus kreatif dan
inovatif," katanya
waktu kami duduk ngobrol di warung kopi sebuah hotel
di Jakarta. "Apa yang
ditemukan oleh seorang pengusaha dan laris dijual di
pasaran itu tidak
akan tahan lama," sambungnya. "Begitu produkmu laris,
maka
berbondong-bondonglah pengusaha lain menjiplaknya.
Apalagi di tanah air kita ini,
yang namanya proteksi patent itu belum ada. Oleh
karena itu pengusaha
harus selalu berusaha menemukan barang dan jasa atau
cara layanan yang
baru, sehingga kalau yang lama dijiplak muncullah yang
baru."
Monang juga terkesan atas cara CITIBANK membekali
stafnya dengan
keahlian manajemen yang bersifat umum. Menurut Monang
keahlian tersebut
merupakan balas jasa nonfinansial yang sangat besar
manfaatnya bagi karyawan
apabila mereka kelak ingin atau terpaksa pindah
pekerjaan. Karyawan
adalah manusia, kata Monang. Mereka itu menginginkan
perubahan termasuk
pekerjaan. Tidak setiap karyawan bersedia teken
kontrak sampai mati
dengan sebuah perusahaan di mana mereka bekerja. Kalau
sudah bertahun-tahun
mengabdikan diri pada suatu perusahaan, seorang
karyawan ingin berganti
pekerjaan, pengusaha yang bersangkutan harus membantu
karyawan yang
baik tersebut mndapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Membekali staf dengan
keahlian manajemen, menurut Monang merupakan salah
satu cara perusahaan
dapat membantu karyawannya kelak mendapatkan pekerjaan
lain yang lebih
baik, apabila hal tersebut diinginkan atau terpaksa
dilakukan.
Suka Duka Membangun Ciputri
Satu tahun yang lalu saya pernah duduk termangu,
ketika pada suatu
siang seorang gadis mendatangi kantor saya dengan
sebuah amplop undangan di
tangan. "Saya disuruh Pak Sinaga menemui Bapak untuk
menawarkan
undangan pembukaan rumah makan beliau di Ciputri,
Puncak. Kepada Bapak akan
disuguhkan udara sejuk pegunungan, makanan khas
Indonesia dengan cara
penyajian Eropa dan hiburan musik jazz oleh Ireng
Maulana," kata gadis
tersebut.
Inovasi apalagi yang dimunculkan pengusaha Batak ini,"
pikir saya. Dua
tahun yang lalu dia mendirikan sebuah perusahaan
leasing, lalu sebuah
perusahaan konsultan, sekarang sebuah rumah makan di
daerah pegunungan.
Ketika saya menghadiri undangan pembukaan rumah makan
itu, tidak banyak
waktu yang dapat saya gunakan untuk ngobrol dengannya.
Di luar dugaan
saya tamu-tamu dari Jakarta yang bersedia merogoh
dompet membeli
undangan ternyata luar biasa banyaknya. Beberapa di
antara mereka saya kenal
pejabat-pejabat penting dari perusahaan swasta maupun
instansi
pemerintah.
Waktu berpisah kami berjanji akan bertemu lagi minggu
depan untuk
membicarakan rumah makannya. Nampaknya janji tinggal
janji, karena kesibukan
saya sendiri ternyata baru sebelas bulan kemudian saya
kembali ngobrol
di rumah makan tersebut sambil menikmati lontong tahu,
ikan mas bakar
dan kopi juragan makanan dan minuman favorit rumah
makan Ciputri.
Monang kelihatan sedikit kurus walaupun wajahnya
nampak cerah
menandakan kehangatan bathin. "How is your restaurant
business; bagaimana
perkembangan bisnis rumah makanmu?" tanyaku. Monang
segera bercerita panjang
lebar, mulai dari motif yang mempengaruhinya membuka
rumah makan
Ciputri, program pengembangan keahlian karyawannya,
tamu-tamu rumah makan
sampai kesulitan yang dihadapi oleh rumah makan
barunya untuk mendapatkan
kredit investasi kecil dari bank.
Monang mendirikan rumah makan Ciputri, yang seratus
persen dimilikinya
karena ingin menjadi tuan dari pekerjaannya. Dengan
Ciputri, Monang
dapat memperoleh kebebasan penuh untuk menerapkan
aneka ragam keahlian dan
pengalaman bisnis yang diperolehnya dari berbagai
macam perusahaan
tempatnya bekerja dulu.
Ciputri yang berjarak 100 kilometer dari Jakarta itu
hanyalah kecamatan
saja. Merekrut tenaga kerja yang berpengalaman untuk
melayani turis
dari Jakarta dan Bandung, kadangkala juga turis asing
bukanlah pekerjaan
mudah di kecamatan ini. Rata-rata pemuda-pemudi
Ciputri yang
berpendidikan SLTA atau SLTP tersebut hanya mampu
melayani tamu rumah makan biasa.
Namun Monang tidak putus asa. Dengan pengalamannya
dalam program
pengembangan keahlian karyawan di CITIBANK Monang
mulai menggembleng 12 orang
karyawannya agar mampu memasak dan menghidangkan
masakan-masakan
tradisional Indonesia dengan gaya Eropa.
Didatangkannya seorang ahli rumah
makan dari Jakarta yang telah berpengalaman lebih dari
16 tahun mengelola
rumah makan internasional dan rumah makan dalam hotel
kelas satu. Hasil
yang dicapai cukup memuaskan. Dalam waktu 3 bulan
karyawan-karyawan
tersebut telah mampu menghidangkan makan siang kepada
satu rombongan turis
dari Belanda yang sedang dalam perjalanan
berdarmawisata ke Bandung
secara memusakan.
Monang memilih Ciputri sebagai lokasi bisnis rumah
makannya karena
tempat itu terletak ditengah-tengah jarak antara
Jakarta dan Bandung.
Dengan demikian Monang dapat mengharapkan baik para
pengendara mobil dari
Bandung ke Jakarta maupun sebaliknya telah merasa
lelah di tempat itu dan
ingin istirahat makan dan minum di rumah makannya.
Buat dia dengan mendirikan rumah makan Ciputri itu
tersalurlah
keinginannya untuk bekerja keras, namun tidak
kehilangan kesempatan menikmati
kenikmatan berpariwisata. Rumah makannya menghadap
jalan raya dan
membelakangi sawah dan pegunungan itu benar-benar
suatu tempat rekreasi yang
mengasyikan. "Sis ...." katanya dengan senyum ceria
"walaupun tidak
besar-besaran, namun dengan rumah makanku ini aku
telah ikut membantu
usaha pemerintah untuk membendung arus urbanisasi."
Menciptakan lapangan
kerja untuk pemuda-pemudi pedesaan memang salah satu
motivasi Monang
untuk mendirikan rumah makan itu.
Tidak hanya 12 orang karyawan langsungnya yang dapat
dihidupi oleh
Monang. Tiap hari Minggu siang rumah makan ini
menyuguhkan "vocal Group
songs" kepada tamu-tamu yang kadang-kadang mencapai
200 orang itu. Dengan
suguhan "vocal group songs" secara tetap Monang juga
dapat memberikan
nafkah kepada ara pemainnya.
Dari dua kali kunjungan saya ke rumah makan di pinggir
jalan raya
Jakarta - Bandung itu dapat saya lihat bahwa rasa
"melu handarbeni" para
karyawannya terhadap perusahaan tempat mereka bekerja
cukup tinggi. Di
samping balas jasa dan program pengemabangan keahlian
yang terarah,
menurut Monang rasa ikut memiliki perusahaan yang
tinggi di kalangan
karyawannya itu timbul karena contoh baik yang
diberikan kepada mereka.
"Walaupun aku pemilik rumah makan ini," katanya "aku
tidak pernah bergaya
priyayi atau menak yang hanya pandai paring dawuh -
memberi instruksi,"
katanya.
Monang selalu menanmkan jiwa unggul kepada para
karyawannya. Bagi
Monang dan karyawan rumah makan Ciputri, tidak ada
pekerjaan yang rendah
derajatnya asal pekerjaan itu halal. Walhasil Monang
yang sarjana ekonomi
itu sering mengemudi truk mini hi-jet merahnya
berbelanja sayur dan
daging untuk rumah makannya. Tidak jarang pula Monang
yang eksloan officer
CITIBANK dan senior investment PICA A.S itu
bersama-sama karyawannya
beramai-ramai membuang sampah. "Bagiku membuang sampah
untuk menjaga
kebersihan rumah makan yang menghidupi sekian banyak
orang ini," katanya
"adalah jauh lebih tinggi nilainya dari pada
menyalahgunakan jabatan
untuk sekedar mendapatkan komisi atau saham kosong."
Disiplin yang tinggi, tekun, ulet, jujur, hemat
merupakan sifat-sifat
yang unggul yang terus menerus dipompakan oleh Monang
kepada anak
buahnya, di samping sikap-sikap optimis, ceria dan
penuh humor tanpa
meninggalkan sopan sangtun dalam melayani tamu.
Lalu apakah rumah makan ini tidak pernah mengalami
kesulitan? "Oh,
pernah...," jawab Monang "terutama dalam bidang
pengadaan dana
operasional." Monang membeli seribu meter persegi
tanah tanah di pinggir jalan dan
membangunnya menjadi rumah makan bergaya arsistik itu
dengan seluruh
dana simpanan yang dihasilkannya selama
bertahun-tahun. Untuk modal
kerjanya, dua mobil pribadinya dijual. Monang tidak
menduga sebelumnya bahwa
tamu-tamu rumah makannya, terutama dihari-hari Sabtu
dan Minggu
demikian banyak jumlahnya dan perkembangannya pesat.
Sehari demi sehari Monang mulai merasakan bahwa dana
modal kerja yang
diperoleh dari hasil penjualan mobil pribadi tersebut
jauh dari
mencukupi. Segeralah Monang menghubungi bank-bank
untuk mengajukan permintaan
kredit investasi kecil dan modal kerja permanen untuk
membiayai
pengaspalan tempat parkir mobil tamu dan tambahan dana
modal kerja rumah
makannya. Hasilnya ...... nol. "Itulah ironinya," kata
Monang "waktu aku
bekerja di CITIBANK, PICA, OBUL dan Pamor Cipta Inti
Leasing, aku sering
ikut berperanan dalam pemberian kredit milyaran rupiah
kepada para
pengusaha. Tapi kini waktu aku mengubah diriku menjadi
seorang pengusaha
kecil, mencari KIK dan KMKP pun dapat kesulitan,"
tuturnya.
But the show must go on, operasi rumah makannya harus
berkembang terus,
demikian pedoman pengusaha kecil yang satu ini. Kalau
KIK dan KMKP
tidak juga kunjung datang, sumber dana lain harus
dicari. Monang berunding
dengan anggota keluarganya, dengan hasil mufakat
satu-satunya mobil
kebanggan keluarga yang masih tinggal, VOLVO 244 GL,
dijual, dilipat
dijadikan duit untuk mengaspal tempat parkir tamu dan
tambahan dana modal
kerja rumah makannya. Kini keluarga pengusaha kecil
itu tinggal mempunyai
satu mini truk Suzuki hijet cat merah yang dipakai
...untuk berbelanja,
mondar mandir Jakarta-Ciputri, untuk urusan pekerjaan
lain dan untuk
apa saja.
TANTANGAN BAGI PARA MUDA
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat dua puluh
menit malam waktu
saya pamit pulang ke Jakarta setelah hampir enam jam
kami ngobrol.
Tidak terasa empat cangkir kopi juragan telah saya
minum selama ngobrol.
Dalam perjalanan pulang dalam hati saya katakan "Horas
Monang, semoga
rumah makan Ciputrimu dapat menjadi contoh bagi
sarjana muda usia dalam
usaha mereka untuk turut mengisi kemerdekaan
bangsanya.


0 Comments:
Post a Comment
<< Home